Akan Bertemu Kembali?

Ada sebuah tradisi menarik dari masyarakat Banjar ketika akan berpisah untuk safar  madam. Jaman dahulu sebagaimana yang kita ketahui dari cerita-cerita orang tua kita, kakek, atau pun mereka-mereka yang lebih tua dari kita, kalau ada seseorang pergi keluar daerah untuk suatu keperluan akan lama kembali. Di antara sebabnya mungkin karena belum maju trasnportasi dan belum tercapai suatu hajat.

Alkisah ada seorang anak yang menunutut ilmu ke negeri seberang, maka sebelum berpisah sang anak akan meminta ampun kepada orang tua. Nah ketika bersalaman dengan si abah, beliau akan mengucapaka, ‘asyhadu alla  ilaha illallah,” kemudian berhenti dan menyahut si anak melengkapi kalimat syahadat itu,”wa asyhadu anna mumammdar rasulullah.” Maka insya Allah akan diertemukan kembali.

Kalau misalnya kita tinjau dari sisi agama memang tidak ada tuntunannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sesuatu yang tidak ada tuntunan dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam ada bid’ah fid dien, ”

Dari Ummul mukminin, Ummu ‘Abdillah, ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu dalam urusan agama kami ini yang bukan dari kami, maka dia tertolak”.
(Bukhari dan Muslim. Dalam riwayat Muslim : “Barangsiapa melakukan suatu amal yang tidak sesuai urusan kami, maka dia tertolak”) (
Bukhari no. 2697, Muslim no. 1718)

Maka tentu salah kalau kita menganggap hal itu sebagai sebuah ritual atau adab islami. Akan tetapi, perlu kita pahami juga orang-orang bahari (dahulu) dalam memberikan pelajaran dan menyapaikan dakwahnya tentunya tidak seperti sekarang, langsung dan jelas secara bahasa. Sebab kondisi masyarakat pada saat itu bebrdeda jauh dengan kondisi kita sekarang. Jangankan baca tulis arab, baca tulis bahasanya sendiri saja banyak yang tidak mampu.

Sehingga esensi dakwah pun harus disampaikan dengan lebih membumi dan memang harus benar-benar kondisional. Misalkan dalam tradisi di atas secara tersirat dapat kita tangkap adanya pengenalan terhadap ajaran tauhid. Dan apabila kita mendalami maksud dari hal, maka tidaklah bertentangan dengan agama secara pemaknaan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”

Dari ‘Itban bin Malik, Rasulullah bersabda, “Maka sesungguhnya Allah mengharamkan terhadap api neraka bagi siapa yang mengucapkan Laa ilaaha illa Allah (barang siapa yang mengucapkan dan membenarkannya) yang dia mengucapkannya semata-mata untuk mencari wajah Allah.” (HR. Bukhari Muslim)

Kalau kita perjelas maksud dari tradisi itu adalah agar keduanya baik yang pergi atau pun yang di tinggal agar tetap menjaga syahdatnya dengan segala konsikuensinya. Apabila keduanya bisa istiqamah dalam keislamannya, maka tentu akan bisa bertemu kembali, entah di dunia dan tentu saja pertmuan di jannah dengan ijin-Nya. “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran 102).

Islam sampai kaputing, Islam hingga akhir hayat begitu saya memahami pesan yang ingin tersirat dari tradisi tersebut. Tak perlulah kita melesatrikan tradisi tersbut menjadi diri dari menyelisihi sunnah Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam. Yang mesti kita jaga adalah pesan dan semangat menjaga aqidah hingga ajal menjemput dan semoga dengan itu Allah merahmati kita dan mengumpulkan kita di jannah-Nya. wallahu ‘alam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s