Peradaban Unik

Islam adalah agama sealigus peradaban yang pernah mengusai 2/3 dunia dengan berbagai sejarah emas yang ditorehkannya. Sejarah menacatat kemajuan peradaban Islam itu dengan sebuatan The Golden of Age, masa di mana Kekhalifahan Bani Abbasiyah berkuasa dengan Baghdad sebagai ibukota dan pusat peradabannya. Kemajuan terjadi dalam berbagai bidang, mulai dari kedokteran, pertanian, sains, arsitekstur dan bidang-bidang lainnya. Masa ini juga banyak melahirkan tokoh-tokoh yang mempunyai peran penting dalam kemajuan peradaban manusia hingga saat ini dengan karya-karya dan pemikiran mereka.

The Golden Age, why? 

Mempelajari sejarah tidak hanya membahas mengenai masa lalu dan kemudian berlalu begitu saja, alangkah indahnya kalau kita bisa menjadikan sejarah sebagai pijakan hari ini dan proyeksi masa depan. Untuk itulah kita perlu mengetahui kenapa era emas ini terbentuk, Dr Mustafa As-Siba’i dalam bukunya yang bejudul Peradaban Islam (The Islamic Civilization) menyebutkan ada 5 faktor yang menjadikan peradaban Islam ini unik, begitu  dia menyebutnya.

1. Berasas Tauhid

Islam yang diturunkan Allah subhanahu wa ta’ala  kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menyeru manusia agar menyembah Allah semata dan menjauhkan diri dari thogut. “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja) dan jauhi thagut itu” (QS : An-Nahl [16] : 36). Hal itu berpengaruh kepada peradaban yang berkembang tenagh-tenagh masyakarat.

Patung yang merupakan salah satu simbol dari paganisme tidak banyak berkembang pada masa Islam. Karena memang berhala yang berada di sekitar ka’bah, yang disembah oleh kaum kafir quraisy dahulu berupa patung-patung yang dibentuk dan dipahat. Maka untuk menjaga kemurnian akidah Islam segala sesuatu yang dapat mengantarkan kepada kesyirikan akan dihindari.

Walau begitu tidak bekembangnya seni patung bukan berarti seni-seni pahat lainnya juga begitu. Sebaliknya seni arsitekstur mengalami perkembangan dan kemajuanyang sangat pesat, dapat dilihat dari peninggalan situs-situs peradaba Islam yang masih ada hingga saat ini. Seperti kota Baghdad sendiri yang merupakan kota perpaduan bangunanan-bangunan dengan arsitektur yang luar biasa indah. Kesatuan akidah dan nilai tauhid yang dijunjung tinggi juga melahirkan berbagai macam karya yang memiliki kesamaan gaya cita rasa sehingga budaya Islam pun memiliki kekhasannya sendiri.

2. Kosmopolitanisme

Luas kekuasaan Islam menjadikan masyarakatnya pun beragam dari berbagai suku dan bangsa yang berbeda. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah ta`ala:

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. sesungguhnya orang yang paing mulia di antara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.’ (QS :Al Hujurat [49]: 13)

Perbedaan-perbedaan itu didibingkai dengan Islam sebagai sebuah peradaban. Kita juga mengetahui setiap daerah atau bangsa tentu memilki kekhasan dan keunggulan masing-masing, nah potensi-potensi inilah yang kemudian disatukan di bawah kekhalifahan Islam. Peradaban Islam dapat membanggakan tokoh-tokoh jenius pembangun istananya dari semua umat dan bangsa. Abu hanifah, Malik, Syaf`i, Ahmad, Al Khalil, sibawaih, Al Kindi, Al Ghazali, Al Farabi, Ibnu Rusyd dan tokoh-tokoh lain semisal mereka adalah manusia dari kebangsaan yang berbeda-beda. Keberhasilan Islam membangun peradabannya yang gemilang ditupang oleh kemampuan dalam menyatukan berbagai peradaban manusia di berbagai belahan dunia yang berbeda secara geografis dan budaya. Peradaban Islam menyatukan umat manusia dari beragam latar belakang ras, bangsa, wilayah geografis, keturunan dan beragam bahasa. Tanpa menghilangkan jati diri dan identitas masing-masing.

3. Berasas Pada Moral Yang Agung

إنما بعثت لأتم صالح الاخلق

”Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang sholeh”. (HR: Bukhari dalam shahih Bukhari kitab adab, Baihaqi dalam kitab syu’bil Iman dan Hakim). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana sabda beliau diutus selain untuk mendakwahi manusia kepada ketaatan kepada Allah, juga untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Sehinggi kedudukan akhlak atau moral pun memiliki posisi penting dalam Islam dan peradaban yang dikembangkannya.

Dengan dijunjung tingginya moral dalam kehidupan bermasyarakat, kemajuan peradaban Islam pun mencapai puncaknya karena masyarakat merasa adanya rasa aman dan nyaman. Terjaga akhlak ini menurunkan dan manahan laju penyakit masyarakat yang dapat merusak masyrakat dan melemahkan sebuah negara. Seperti pelarangan prostistusi yang sekarang malah menjadi legal dibeberapa negara bahkan di negara yang mayoritas muslim sekalipun. Pelarangan prositusi merupakan sikap tegas Islam dalam memrangi penyakit masyarakat berupa perzinaan yang dapat merusak nasab dan tatanan masyarakat.

4. Menyatukan Agama dan Negara

Islam tidak mengenal pembagian wilayah negara dan wilayah agama seperti isu-isu sekularisme yang sekarang berkembang. Karena memang semuanya sudah diatur di dalam Al-Qur’an dan Hadits.

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينً

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kusempurnakan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridhoi Islam sebagai agama bagimu.”(QS : Al Maidah [5] : 3).

Penyatuan ini pulalah yang menjadikan perkemabangan peradaban Islam dapat berjalan dinamis karena adanya saling penjagaan antara agama dan negara. Kemajuan tanpa didasari oleh nilai-nilai agama hanyalah kemajuan semu yang pada akhirnya banyak menimbulkan permaslahan yang kompleks di tengah-tengah masyarakat yang berujung pada hancurnya eradaban tersebut. Sedangkan negara sendiri berfungi untuk mengawal pelaksanaan agama.

5.  Toleransi Yang Mulia

Sejarah membuktikan peradaban Islam dapat berlaku adil dan memimpin umat manusia yang berbeda agama, suku, bangsa, dan bahasa. Toleransi yang dikembangkan Islam menjamin mereka yang memeluk agama yang lain bebas melaksanakan agamanya. Dijamin pula darah dan hartanya selama taat kepada pemerinthan Islam. Bahkan yang lebih menakjubkan lagi kesamaan hukum terhadap semua rakyat maupun pejabat. ‘Demi Allah, andaikata Fatimah, putri Muhammad mencuri, pasti Muhammad memotong tangannya.'(HR.Bukhari dan Muslim)

refrensi :

Peradaban Islam, Dr. Mustafa as-Siba’i

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s