Prinsip-prinsip Islam dalam perkembangan Kesultanan Banjar dan Kejatuhannya

Sejarah berdirinya Kesultanan Banjar

Kesultanan Banjar berdiri pada bulan September 1526 dengan Raden Samudera atau Sultan Suriansyah (setelah memeluk Islam) sebagai Raja pertamanya. Peristiwa itu ditandai dengan penyerahan kekuasaan dari Pangeran Tumenggung atau Paman Aria Batahta kepada Pangeran Samudera yang tidak lain adalah keponakannya sendiri. Dengan berpindahnya kekuasaan ini berpindah pula lah pusat kerajaan dari Daha ke Banjarmasin.

Pada dasarnya Pangeran Samudera memang merupakan ahli waris sah Kerajaan Daha, dia adalah cucu dari Raden Sukarama. Menjelang kewafatannya Raden Sukarama berwasiat agar tahtanya nanti diwariskan kepada Pangeran Samudera yang ketika itu masih kecil. Pangeran Tumenggung yang mengetahui hal itu tidak terima dan bermaksud untuk membuhuh keponakannya sendiri. Oleh Mangkubumi Aria Taranggana dinasihatkan agar melahirkan diri menyusuri hilir sungai sampai akhirnya tiba di daerah Kuwin yang kelak di sinilah Pangeran Samudera diangkat menjadi Raja.

“… Aria Taranggana itu maka dicarinya Raden Samudera itu dapatnya maka dilumpanya arah perahu tangkasyu maka diberi jala kecil sebuah, parang sabuting, pisau sabuting, pengayuh sabuting, bakal sabuah, sanduk sabuting, pinggan sabuting, mangkuk sabuah, baju salambar, salawar salambar, kalambu sabuting, tapih salambar, tikar salambar, kata Aria Taranggana Raden Samudera tuan hamba larikan dari sini arena tuan hendak dibunuh oleh Pangeran Tumenggung, tahu-tahu menyamar diri, lamun tuan pigi beroleh menjala …[1]

Setelah diangkatnya Pangeran Samudera sebagai Raja, mulailah beliau menyusun kekuatan untuk merebut kembali kerajaan dan kekuasaan. Dalam menyiapakan pasukannya Pangeran Samudera juga meminta bantuan kepada Kerajaan Demak. Oleh kerajaan Demak hal itu disetujui dengan syarat Pangeran Samudera dan rakyatnya masuk Islam. Maka Sultan Demak, Sultan Surya Alam pun mengirim seribu pasukan dan diiringi oleh Penghulu Islam yang mengislamkan Raja dan penduduk.

Salam sembah putera andika Pangeran di Banjarmasin datang kepada Sultan Demak. Putera andika menantu nugraha minta tolong bantuan tandingan lawan sampean kerana putera andika berebut kerajaan lawan parnah mamarina yaitu namanya Pangeran Tumenggung. Tiada dua-dua putera andika yaitu masuk mengula pada andika maka persembahan putera andika intan 10 biji, pekat 1.000 galung, tudung 1.000 buah, damar 1.000 kandi, jeranang 10 pikul dan lilin 10 pikul”. Itulah bunyi surat yang ditulis oleh Pangeran Samudera kepada Sultan Demak, yang menarik adalah penulisan surat itu menggunkan bahasa Arab. Hal ini menunjukkan bahwasanya Islam sudah masuk ke daerah Banjar pada sekitar abad ke-15.

Perang pun akhirnya terjadi. Melihat banyak korban yang berjatuhan dari kedua belah pihak maka diputuskanlah untuk melakukan perang tanding antara Pangeran Samudera dengan Pangeran Tumenggung. “… Lamun masih baadu rakyat satu tahun tiada bartantu yang manjadi raja itu. rakyat juga yang binasa karana orang Negeri Daha ini bassuluk barkaluarga itu sampian jua manjadi raja lamun tiada barbanyak tiada barguna sakalian kula, siapa hidup manjadi raja, sudah itu kula lawan Patih Masih”.[2] Dengan berpakaian perang dan persenjataan lengkap keduanya pun saling berhadapan, tapi ternyata Pangeran Samudera tidak mau melawan. Melihat sikap keponakannya tersebut Pangeran Tumenggung pun luluh dan akhirnya melompat dari perahunya ke perahu Pangeran Samudera dan memeluknya.

“… Kata Pangeran Samudera merakak andika Tumenggung tombak kula atau pedang kula, karana dahulu sampiyan kasini, sampian masih handak membunuh kula, sakian ulun tuluskan karsa andika, tapi kula tiada handak durhaka pada andika, karna kula tiada lupa akan andika itu akan ganti ibu bapa kula, sekarang mau andika bunuh kalaf, maka Pangeran Tumenggung mendengar demikian itu maras hatinya serta ia menangis pedang dan perisai dilepaskannya, maka ia lumpat pada perahu Pangeran Samudera itu serta mamaluk mencium Pangeran Samudera.[3]

Pangeran Tumenggung rela menyerahkan kekuasaan dan segala tanda kebesaran kepada kemanakannya sendiri, dan keduanya berpelukan. Terjadilah penyerahan regalita kerajaan terhadap Pangeran Samudera. Pangeran Tumenggung diperintahkan berkuasa di Batang Alai dengan 1.000 orang penduduk. Negara Daha ditinggalkan, menjadi kosong karena semua penduduknya diangkut ke Banjarmasin. Negara Daha lenyap dari sejarah dan tinggal bekas-bekasnya di daerah Pematang Patung di Parit Basar Garis, km 21 sekarang.[4]

Prinsip-Prinsip Islam dalam Perkebangan Kesultanan Banjar

Berdirinya Kesultanan Banjar di Banjarmasin menandai berakhirnya era kerajaan hindu yang sebelumnya kental dengan Kerajaan Dipa atau pun Daha. Islam pu dijadikan sebagai landasan dalam bernegara dan bermasyakat. Hal itu dapat dilihat dari kebijakan-kebijakan negara dan interaksi kehidupan di masyarakat Banjar pada saat itu.

  1. Undang-Undang Sultan Adam

Undang-undang Sultan Adam adalah undang-undang yang disusun oleh Sultan Adam Al Wasik Billah  sendiri dibantu oleh tim yang diantarannya terdiri dari Pangeran Syarif Hussein, Mufti H. Jamaluddin dan lain-lain. Undang-undang ini disusun berdasarkan pada hokum agama, dengan kata lain berpedoman pada Al-Qur’an dan Sunnah. Undang-undang ini ditetapkan pada kamis 15 Muharram 1251 Hijriah pukul 09.00 pagi oleh Sultan Adam. Maksud dan tujuan dari Undang-Undang ini dikeluarkan jelas tertulis dalm konsiderannya yaitu :

– untuk menyempurnakan agama dan kepercayaan rakyat

– untuk mencegah jangan sampai terjadi pertentangan rakyat, dan

– untuk memudahkan bagi para hakim dalam menetapkan hukum agar rakyatnya menjadi baik.

“Pada hejrat sanat 1251 pada hari Chamis yang kalima belas hari bulan Almuharram djam pukul sembilan pada ketika itulah aku Sultan Adam memboeat Undang-undang pada sekalian ra’jatku supaja djadi sempurna agama rakjatku dan atikat mereka itu supaja djangan djadi banyak perbantahan mereka itoe dan soepaja djadi kamudahan segala hakim menghukumkan mereka itu aku harap djuga bahwa djadi baik sekalian hal mereka itu dengan sebab undang-undang ini maka adalah undang-undang ini maka undang-undangku beberapa perkara”[5]

Materi Undang-undang ini dapat dikelompokkan sebagai berikut :

1. Masalah-masalah agama dan peribadatan, mencakup :

Pasal 1 – Masalah kepercayaan

Pasal 2 – Mendirikan tempat ibadah dan sembahyang berjemaah

Pasal 20 – Kewajiban melihat awal bulan Ramadhan puasa

2. Masalah Hukum Tata Pemerintahan, mencakup :

Pasal 3 – Kewajiban tetuha kampung

Pasal 21 – Kewajiban tetuha kampung

Pasal 31 – Kewajiban lurah dan Mantri-Mantri

3. Hukum Perkawinan, mencakup :

Pasal 5 – Syarat nikah

Pasal 4 – Syarat nikah

Pasal 6 – Perceraian

Pasal 18 – Barambangan

Pasal 25 – Mendakwa isteri berzina

Pasal 30 – Perzinaan

4. Hukum Acara Peradilan, mencakup :

Pasal 7 – Tugas mufti

Pasal 8 – Tugas mufti

Pasal 9 – Larangan pihak yang berperkara datang pada pejabat

Pasal 10 – Tugas hakim

Pasal 11 – Pelaksanaan putusan

Pasal 12 – Pengukuhan keputusan

Pasal 13 – Kewajiban bilal dan kaum

Pasal 14 – Surat dakwaan

Pasal 15 – Tenggang waktu gugat menggugat

Pasal 19 – Larangan raja-raja atau mantri-mantri campur tangan urusan perdata, kecuali ada surat dari hakim

Pasal 24 – Kewajiban hakim memeriksa perkara

5. Hukum Tanah, mencakup :

Pasal 17 – Gadai tanah

Pasal 23 – masalah daluarsa

Pasal 26 – Masalah daluarsa

Pasal 27 – Sewa tanah

Pasal 28 – Pengolahan            tanah

Pasal 29 – Menterlantar tanah

6. Peraturan Peralihan, mencakup pasal 16.

 

 Perkara 1 Undang-undang Sultan Adam :

“Adapoen perkara jang pertama akoe soeroehkan sekalian ra’jatkoe laki-laki dan bini-bini beratikat dalal al soenat waldjoemaah dan djangan ada seorang baratikat dengan atikat ahal a’bidaah maka siapa-siapa jang tadangar orang jang beratikat lain daripada atikat soenat waldjoemaah koesoeroeh bapadah kapada hakimnja, lamoen benar salah atikatnja itoe koesoeroehkan hakim itoe menobatkan dan mengadjari atikat jang betoel lamoen anggan inja dari pada toebat bapadah hakim itu kajah diakoe”.[6]

  1. 2.     Urang Banjar

Urang Banjar adalah nama untuk penduduk yang mendiami daerah sepanjang pesisir Kalimantan Selatan, Tengah, Timur dan Barat.[7] Urang Banjar itu setidak-tidaknya terdiri dari etnik Melayu sebagai etnik yang dominan, kemudian ditambah dengan unsur Bukit, Ngaju dan Maanyan yang merupakan suku Dayak. Dalam pergaulan bahasa Banjar dominan dalam percapakan sehari-hari. Pada perkembangannya Urang Banjar adalah mereka yang telah memeluk Islam baik dari suku Dayak atau pun Melayu.

 

  1. Budaya Ijab Qabul

Budaya ijab qabul masih berlangsung sampai saat ini. Meang kita memahami bahwasanya ijab dan qabul tidak harus diucapkan dalam akad jual beli, ijab qabul sudah sah apabila kedua belah pihak, penjual dan pembeli telah paham dan sadar akan akak tersebut. Walau begitu dalam masyarakat Banjar lafadz ijab qabul ini lazim terjadi dalam akad jual beli. Biasanya pembeli akan mengucapakan ‘tukar(beli)’ baru kemudian penjual menjawab ‘jual’.

Kemunduran Kesultanan Banjar

Sebagimana sejarah-sejarah umat manusia terdahulu sebuah peradaban itu akan mengalami masa gemilang begitu juga masa-masa kemunduran yang berujung pada kejatuha peradaban tersebut. Kesultanan Banjar pun demikian, sejarah panjang telah menyertainya hingga akhirnya jatuh. Berikut beberapa peristiwa dan faktor yang mengiringi jatuhnya Kesultanan Banjar.

  1. Munculnya persaing dalam perdagangan di kalangan elit dan bangsawan

Untuk menghadapi masalah perdagangan terhadap pedagang asing terutama Inggeris dan Belanda terdapat 4 kelompok yang saling bersaing dan bertentangan, karena bangsawan itu, juga menguasai perdagangan secara pribadi. Ada 4 kelompok yang saling bersaing, antara lain :

1. Kelompok Sultan, Raja Itam, Adipati Anom dan Raja Mempawah adalah anggota Dewan Mahkota, tetapi menginginkan perdagangan bebas dan memanggil VOC hanya sebagai alat untuk menghadapi perluasaan kekuasaan Mataram atas wilayah Banjarmasin.

2. VOC sebagai kelompok yang berusaha untuk dapat monopoli lada di Banjarmasin yang pada tahun 1638 mengalami kegagalan.

3. Golongan bangsawan pengusaha, yaitu golongan bangsawan yang mempunyai usaha perdagangan secara pribadi, menyokong Inggeris sebagai alat menghadapi VOC.

 

4. Inggeris mengikuti VOC-Belanda, agar memperoleh hak monopoli dalam perdagangan lada di Banjarmasin yang disokong oleh golongan bangsawan pengusaha. Dan berusaha menghasut orang Makassar untuk menyerang Sultan.

Adanya kelompok-kelompok tersebut membawa konflik terutama antara intern kesultanan. Konflik ini memuncak tahun 1638. Selain peristiwa tersebut masih banyak lagi konflik yang melibatkan elit kerajaan.

  1.  Perebutan kekuasan

Salah satu peritiwa perebutan kekuasan yang terjadi adalah konflik antara Pangeran Adipati Halid atau Pangeran Tapasena dengan Pangeran Adipati Anom atau Pangeran Suryanata. Hal itu dipicu oleh keputusan Pangeran Adipati Halid yang mnyetujui perjanjian dagang dengan VOC sehingga dianggap pro Belanda. Maka Pangeran Suryanata yang didukung oleh sebagian kalangan bangsawan pun melakukan kudeta. Konflik ini pada awalnya berakhir damai dengan adanya pemabgian kekuasaan sebagai berikut :

1. Pangeran Adipati Halid atau Pangeran Tapasena tetap berkuasa di Martapura.

2. Pangeran Adipati Anom atau Pangeran Suryanata berkuasa dan memindahkan kerajaan di sungai Pangeran Banjarmasin dengan gelar Sultan Agung (1663-1679). Pangeran ini mengangkut 10 pucuk meriam dan 600 prajurit dari Kayutangi Martapura. Adiknya, Pangeran Purbanegara menjadi raja Muda.

Namun kemudian sepeninggal Pangeran Adipati Halid, Amirullah Bagus Kesuma yang merupakan pewaris tahta yang sebenarnya menyusun kekuatan dan menyerang Sultan Agung pada tahun 1679, dan mendapatkan tahtanya kembali.

  1. Serangan Belanda yang bekerjasama dengan pemerintah boneka

Setelah Kerajaan Banjar kalah dalam Perang-Banjar (1859-1905) melawan kolonialisme Belanda, Belanda menghapuskan Kerajaan Banjar. Dengan hapusnya Kerajaan Banjar tersebut maka Undang-undang Sultan Adam juga tidak berlaku lagi, tetapi sampai sekarang Pola Penguasaan, Pemilikan dan Penggunaan tanah (Land Tenure) masih hidup dikalangan masyarakat dan dihormati secara tradisi.

Dalam masa peperangan ini masyhur mengenai kisah perjuangan Pangeran Hidayatullah yang akhirnya berhasil dijebak Belanda dengan kelicikannya. Ada juga Pangeran Antasari dengan perang gerilyanya, gerakan Muning yang dipimpim Datu Aling, Sultan Kuning, Demang Lehman, Bukhari dalam Amuk Hantarukung, Pangeran Yuya. Rangakain peristiwa-peristiwa itu diawali meletusnya perang Banjar yang kemudian menjalar ke daerah-dareah sekitar, seperti pemberontakan Banua Lima, Perang skitar Martapura, Pertempuran Jatoh dan peristiwa lainnya yang saling berkaitan dan berkahir pada Hancurnya Pagustian dan Manawing dan Berakhirnya Perang Banjar (1905)

  1. Kesimpulan dan Saran
    1. Prinsip-prinsip Islam yang berkembang dalam Kesultanan Banjar dapat dilihat dia antaranya dari adanya Undang-undang Sultan Adam, istilah Urang Banjar, dan budaya ijab qabul
    2. Di anatara sebab kemunduran Kesultanan Banjar yang berujung pada kejatuhannya adalah persaingan elit dalam perdagangan, perebutan kekuasaan dan serangn dari colonial Belanda
  2. Daftar Pustaka

Ebook, zamanbaru,pdf. Di download di http://banjarcyber.tripod.com/zamanbaru.pdf pada tanggal 28 Januari 2011

http://banuahujungtanah.wordpress.com/2010/03/31/pangeran-suriansyah/ di download pada tanggal 29 Januari 2011

Sejarah Kerajaan Banjar. http://kadahakunjua.blogspot.com/2009/02/cikal-bakal-kerajaan-banjar-di.html di download pada tanggal 29 Januari 2011

Pati Unus. http://id.wikipedia.org/wiki/Pati_Unus di download pada tanggal 29 Januari 2011


[1] Depdikbud, “Hikayat Banjar”, Seri Penerbitan Museum Negeri Lambung Mangkurat, Banjarbaru, 1981, hal. 70.

[2] J. Ras, op.cit., hal. 430.

[3] Depdikbud, op.cit., hal. 96.

[4] M. Idwar Saleh, Banjarmasih, Museum Negeri Lambung Mangkurat, Banjarbaru, 1981/1982, hal. 24.

[5] Amir Hasan Kiai Bondan, op.cit., hal. 151.

[6]

Commisie Voor Het Adatrecht, Adatrectbundels Deel XIII, Borneo’s Gravenhage Martinus Nijhoff, 1917, dalam Abdurrahman, “Studi Tentang Undang-Undang Sultan Adam 1835: Suatu Tinjauan Tentang Perkembangan Hukum Dalam Masyarakat dan Kerajaan Banjar pada Pertengahan Abad ke-19”, Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Sultan Adam, Banjarmasin, 1989, hal. 63; Amir Hasan Kiai Bondan, Suluh Sedjarah Kalimantan, Fadjar, Banjarmasin, 1953, hal.

[7] J. Mallinckrodt, Het Adatrecht van Borneo, 2 vols, Dubbeldeman, Leiden, 1928, hal. 48.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s