Duri Kaktus

Aku lupa berapa usiaku dulu pada waktu itu, yang jelas masih kecil antara usia anak tk atau awal masuk sekolah dasar. Pernah aku memecah sebuah pot tanaman yang berisi tanaman kaktus yang ada di halaman rumahku. Tak sengaja memang aku menjatuhkannya, entah bagaimana tubuhku jatuh menyenggol pot itu lalu kemudian menimpanya, walau begitu tetap saja ada perasaan takut dimarahi meliputi diri seorang anak kecil sepertiku.

Takut dimarahi itulah yang kurasakan, sebab aku memang tipe anak kecil yang sangat tidak suka dimarahi. Cepat aku bangkit kemudian membereskan sepihan-serpihan pot yang pecah, tapi aku lupa ke mana aku meletakkannya kemudian, begitu juga dengan kaktusnya.

Berhasil menghilangkan jejak kejadian tersebut, ternyata ada hal lain yang masih tersisa, ketika sedang mandi aku merasakan ada sesuatu yang menancap di bagian siku dan punggungku, ya semacam duri gitu. Setelah kuraba, benar itu adalah duri kaktus yang tadi kujatuhkan. Wah, gimana ini pikirku? kalau lapor ke orang tuaku nanti ketauan kalau aku telah memecahkan sebuah pot, sedangkan kalau ngga lapor aku ngga berani menacabut sendiri duri-duri yang menancap ini.

Kuputuskan aku teta tidak akan menceritakan kejadian tersebut, sekali lagi takut menjadi alasan. Sebenarnya kalau kupikir-pikir lagi, anak kecil ini bukan untuk dimarahi tapi lebih kepada takut disalahkan. Walhasil, dengan keputusan yang kuambil di atas, duri-duri kaktus itu pun tetap menempel dikulitku. Mungkin takut telah membuatku mampu menahan rasa perih, apalagi kalau kesentuh air ketika mandi. Bukan hanya itu, aku pun harus tidur dengan posisi miring atau telungkup karena kalau telantang tentu duri-duri yang ada dipunggung akan memeberikan efek sakitnya.

Hal itu kulalui kurang lebih seminggu, sampai pada suatu hari orang tuaku menyaksikan sebuah pemandangan yang berbeda dari balik kaos yang kulepas ketita akan bersalin. Mereka kaget dan lantas mencabut duri-duri itu dengan segera, barulah kemudian aku ditanya mengenai kejadian tersebut. Kuceritakan kejadiannya, marahkah mereka? Ternyata tidak, jauh dari dugaanku sebelumnya, aku juga tidak disalahkan karena kejadin tersebut, potnya juga tidak disalahkan, begitu pun kaktusnya tidak disalahkan. Yang ada mereka tersenyum dan menertawankan aku, tentu saja hal itu setelah semua duri dicabut dari tubuhku. Sedang sebelumnya mereka terlihat tegang dan khawatir.

17 duri, ya itulah jumlah yang terhitung dan yang kuingat.

Ternyata terkadang keberanian itu muncul bersama rasa takut dan sakit. Sebagaimana seorang beriman yang takut kepada Allah, ya takut akan azab-Nya menajdikan ia berani menaggung rasa sakit dalam melaksanakan ketaatan kepada-Nya. Walau banyak yang menentang hal itu idak dipedulikannya, dia terus melesat kedepan karena sadar tak mengapa sakit di dunia asa terbebas dari siksa neraka. Hanya saja takut kepada manusia berbeda dengan takut kepada Pencipta. Takut kepada manusia dengan mengindarinya sedangkan takut kepada Allah justru dengan semakin mendekatkan diri pada-Nya. Sebagaimana perkataan salaf :

ليس الخائف من بيكي إنما الخائف من ترك ما يقدر عليه

“Orang takut bukanlah orang yang sekedar menangis, namun yang takut sebenarnya ialah yang meninggalkan (kejahatan) yang mampu dikerjakannya.”(-The Best of Motivasi Islami, hal 54)

   Allah juga berfirman

إنما يخشى الله من عباده العلماء

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang berilmu/ulama’ dari hamba Allah yang takut kepadaNya ”.(QS. Fathir [35] : 28).

  Ayat diatas menunjukkan bahwasanya ilmu yang benar adalah yang mengantarkan seseorang semakin takut kepada Allah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s