Animal Free Day

Sekian tahun tinggal di Solo baru setelah lulus bisa ngerasain ikut Car Free Day. Kegiatan yang sekarang rutin diselenggarakan setiap ahad pagi hingga pukul 09.00, kalau ngga ada halangan tentunya, ini melintasi jalan Slamet Riyadi, mulai depan stasiun Purwosari sampai bundaran Gladak. Nah hal itulah menjadi salah satu sebab mengapa aku ngga pernah ikut berpartisipasi apalagi menjadi juara dalam kegiatan ini, karena Madrasah Aliyah, tempatku belajar, yang berada di kekuasan Daulah Bani Aliyah liburnya pada hari Jumat. Daulah Bani Aliyah sendiri walau sudah menamakan diri sebagai sebuah negara tapi masih membayar upeti dan tunduk pada PPMI Assalaam. Di samping soal hari, alasan lain adalah kegiatan ini memang baru diselengarakan tahun lalu atau pas kita duduk, berdiri, dan tidur di kelas 11 MA, jadi ngga mungkin juga kita ikut acara ini beberapa tahun yang lalu, ngga masuk akal.

Ahad pagi, kegiatan di pondok berjalan seperti biasa, KBM berjalan normal, tapi tidak bagi kami yang alumni. Raga kami bolehlah masih di pondok, karena memang beberapa dari kami memutuskan untuk tetap tinggal di pondok sampai waktu yang telah ditentukan, kalau sudah tiba waktunya tentu tak ada yang dapat menghindar. ‘Hitung-hitung ngabisin jatah bulanan yang udah dibayar ampe akhir bulan,’ kata mereka bukan kataku, aku hanya menertawakan sebagai pengiyaan. Akan tetapi apakah hanya untuk itu mereka rela berlama-lama di sini, padahal sebelumnya berikrar pingin cepat-cepat keluar dari sini? Jangan salah ada alasan yang lebih mulia dari sekadar persoalan perut, ya mereka nginep di sini agar gampang bolak-balik ke tempat BimBel, kecuali aku dan beberapa yang lain. Kalau aku sih cuman nunggu ijasah, entah lulus apa ngga nantinya, intinya nunggu ijasah, dan nyatanya lulus, qadarullah. Ok lanjut masih di ahad pagi di hari yang sama,
aku diajak panji sepedaan di area car free day mumpung lagi pada libur.

Sehabis subuh, ngaji bentar, ngga pakai mandi kami meluncur dengan dua buah sepeda, Panji dengan sepedanya dan aku dengan sepeda Taufik. Kaki-kaki kami pun mengayuh dengan penuh semangat pedal sepeda kami masing-masing, tapi jangankan dua tiga pulau terlampau satu pulau aja belum. Setelah sekian detik, berdetik-detik tentunya, tibalah kami di area car free day, bus, mobil, motor dan yang ada kandungan car-nya berbelok ke kanan. Aku juga heran wong namanya car free day, motor, bus, atau yang sejenisnya ngga boleh lewat, akhirnya kusimpulakan car itu adalah istilah sebuah kandungan. Tapi bukan berarti juga wanita hamil ngga boleh lewat sini, kenyataannya banyak ko’ wanita hamil yang turut serta membawa kandungannya di sini, mungkin karena tidak ada jasa penitipan barang kali ibu-ibu/mba-mba itu rela berlelah diri ke sana ke mari bersama kandungannya. Padahal kan ada bapaknya ya, kenapa ngga dititipin si suami aja ya, apa karena si suami terlalu kurus, ngga six pack sehingga dianggap tidak mampu membawa kandungan tersebut, entahlah. Yang penting tidak dititipin ke kami berdua, soalnya kita kan pakai sepeda, repot.

Di area Car Free Day ini bukan cuma kita yang mengendarai sepeda, ada banyak lagi selain kita yang juga menunggani sepedanya karena ngga punya kuda. Dan setelah melihat-lihat hampir-hampir atau mungkin iya sepeda kamilah yang rating bagusnya berada di posisi paling bawah di antara sepeda-sepada bagus lainnya. Ih bukan sepeda kami, tapi sepedanya Panji dan Taufik. Minderkah kami?, ngga juga, kami harusnya bersyukur masih banyak di sekitar kami yang dari awal sampai akhir tak mampu mengendarai sepeda, mereka hanya beralaskan sepatu melintasi aspal-aspal hitam ini. Di hadapan kami terlihat sebuah patung, bukan Latta atau Uzza, melainkan Patung Slamet Riyadi sii empunya jalan, sepertinya dia betah berada di tengah sana biar bisa mengawasi, takut-takut ada pungli atau terjadinya kemacetan. Tapi sepertinya bukan untuk itu dia setia berdiri di sana, orang kalau macet dia diam saja kok, ngga pernah ngamuk apalagi menembakkan senjatanya. Hmmm, mungkinkah dia di sana untuk melihat para wanita berpakaian mini, terbuka, ketat, atau malah tanpa pakaian, kurang cakep ngga papa katanya yang penting cewek, toh kan kalau udah bosan liat cewek banyak juga cowok yang ganteng-ganteng. Tapi aku sadar yang ada dihadapanku ini bukanlah pak Slamet Riyadi, melainkan patung Slamet Riyadi, jadi motif-motif di atas akan berguguran, ah biarlah dia menentukan tujuannya sendiri, aku malas nemani dia di sana. Lewat sana kami menuju alun-alun, berputar-putar di sana sambil cari makan. Sampailah di rumah makan banjar, (mungkin nanti ada pembahasan sendiri), yang terletak ± 300 meter dari bundaran Singosaren. Selesai makan kembali kami mengayuh sepeda, tanpa harus berharap adanya pulau terlampaui. Untuk hari ini kita cukupkan dulu, kan tadi kita belum mandi.

Langsung pada Car Free Day selanjutnya, kembali pada ahad pagi, di tanggal yang berbeda. Aku kembali berpartisipasi dalam kegiatan ini, kali ini tanpa sepeda, kali ini dengan personel yang banyak ada Ageng, Firman, sama Mirza. Panji juga ada, dia tetap memakai sepedanya yang masih kalah bagus dari yang lainnya. Rasanya berbeda kali ini, perjalan lebih nyata, terasa jalannya gitu maksudnya. Di sana kami bisa menyaksikan ada yang lagi bermain bola, skateboard, ada yang lagi senam, dan berbagai atraksi. Kami juga sempat membubuhkan tanda tangan kami di atas sebuah bentangan kain, bukan untuk meresmikan Solo Paragon apalagi membeli Patung Slamet Riyadi. Ya sekadar memberikan pernyataan dukungan untuk hidup tanpa rokok. Terus aku juga berpikir kenapa tidak diakan saja Smoking Free Day, tapi takutnya kalau hal ini benar diberlakukan, para perokok yang dilarang merokok pada itu akan menghisap asap mobil, motor, atau bus yang secara medis bisa leboh berbahaya. Kembali kami meneruskan perjalan, di tengah perjalan kami diberi kopun, wah kopun apa ini pikirku. Apakah ini kopun undian berhadiah karena kami tadi telah membubuhkan tanda tangan terbaik kami, ataukah kopun karena kami adalah peserta ke 1000 yang mengikuti acara ini, ataukah voucher bernilai 50000 ribu yang bisa ditukarkan di swalayan. Ternyata bukan, sobekan kertas itu adalah kopun yang bisa ditukarkan dengan segelas plastik es tebu, satu orang dapat satu, kalau bisa lebih sih bisa aja. Alhamdulillah, segar rasanya setelah kami meneguk minuman tersebut, dingin dan manis, aku kurang tahu tadi mas-masnya masukin gula berapa sendok kok bisa manis begini ya.

Banyak hal menarik yang dapat kami jumpai, termasuk mereka yang menarik anjingnya. Yah anjing, binatang yang biasa menggonggong ketika kafilah berlalu. Ini juga yang kadang membuatku tidak nyaman berada di tempat ini, apalagi kalau liat yang badannya besar-besar. Hei, kenapa itu anjing juga ikut berpartisipasi di acara manusia ini. Kemudian aku sadar ini adalah Car Free Day, bukan Dog Free Day, kan anjing itu binatang, dia juga tidak mengadung unsur car, jadi sah-sah saja donk dia ikut di acara ini.

Walau begitu akau tetap tidak setuju dia ikut berpartisipasi dalam acara ini, mengganggu ketenangan masyarakat menurutku. Kan banyak juga masyarakat yang tidak suka dengan anjing, lebih-lebih dia muslim. Anjing juga bisa gigit, repotkan kalau dia menggigit orang-orang yang sedang berjalan-jalan di sini, tentu akan terjadi keributan apalagi kalau sampai orang itu balas gigit si anjing. Belum lagi liur si anjing itu kan najis, kasiankan kalau ada pakaian seorang yang terkena liurnya, dia harus membasuh 7 kali plus 1 kali dengan tanah agar suci kembali. Padahal siapa tahu orang tersebut ingin melaksanakan shalat dhuha di Masjid Agung setelah dari Car Free Day ini.

Setelah menimbang persoalan di atas, maka perlu adanya transformasi dari Car Free Day menjadi Dog Free Day. Perubahan ini sudah kusetujui tinggal menunggu sikap pemda setempat. Tapi tunggu dulu, bukan Dog Free Day, lebih tepatnya adalah Animal Free Day. Sebab kalau cuma Dog Free Day, cuman anjing yang ngga boleh ikutan acara ini, bisa saja kan karena tidak boleh bawa anjing mereka berinisiatif untuk membawa babi, dan ini kupikir lebih menjijikan dari anjing. Oleh karena aku mengajukan PK (Peninjauan Kembali) mengubah nama Dog Free Day menjadi Animal Free Day, Sekian di tetapkan di Bogor tanggal 22 Maret 2012 pada pukul 18.07

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s