Kenaikan BBM

Sebelum kita berbicara lebih jauh mengenai gosip kenaikan BBM ini perlu saya jelaskan dulu apa yang dimaksud dengan BBM. BBM di sini bukanlah smartphone, jadi jangan bilang saya rasis ya, saya juga pengguna Blackberry bukan Android, cobalah hilangkan dulu paham ke hape-an dan kedepankan selalu ukhawa islamiyah atas dasar akidah, baru lanjut membaca tulisan ini. Yang dimaksud BBM adalah singkatan dari Bahan Bakar Minyak, seperti Solar, Bensin, Pertamax, dll, tidak termasuk di dalamnya minyak goreng, minyak kelapa, minyak babi atau minyak rambut.

Jangan dulu menyangka kalau yang membuat tulisan ini adalah juru bicara atau baby sister apalagi pawangnya presiden Es Be Ye, karena memang yang bersangkutan sekarang sedang berada di luar negeri, salah besar kalau anda sekalian berpikiran seperti itu. Saya juga bukanlah salah satu menteri anggota kabinet, ini tidak bohong, anda bisa cek ke sekretaris negara nama saya tidak pernah ditercantum di sana, saya pun belum pernah menerima surat pengangkatan, surat tugas, apalagi surat cinta dari presiden es be ye, dan kalau pun setelah ini yang bersangkutan bermaksud meminang saya, jelas akan saya tolak, emanknya saya cowok apaan. Kalau anggota depan? Jelas bukan, memang sih saya pernah dicoblos memakai jarum suntik oleh seorang dokter, tapi tidak serta merta langsung menjadi anggota dewan. Tentu akan banyak calon lain yang protes kalau hal itu terjadi, mereka akan bilang saya curang, jalan yang saya tempuh dianggap tidak fair di era demokrasi sekarang ini. Masa’ mereka yang telah mengeluarkan uang banyak, bohong sana sini, panas-panasan kampanye, tiba-tiba kalah oleh saya yang bukan siapa-siapa ini. Lagian kalau pun KPU mensahkan hasil tersebut, mereka akan kembali berdalil sekaran tidak jamannya lagi main coblos, kan sekarang tata cara dicontring. Nah kalau sudah seperti ini maka tidaklah pantas bagi anda untuk bersikukuh mendakwa saya sebagai anggota dewan. Saya hanyalah pengembera yang ditakdirkan Allah numpang di negeri ini, tidak lebih. Jadi spekulasi mengenai diri saya, saya rasa cukup dengan jawaban di atas.

Ada banyak alasan pemerintah menaikkan harga BBM sekaligus mencabut subsidinya. Diantaranya adalah, tingginya harga minyak dunia, membengkakknya anggaran sehingga beban yang disandang pemerintah semain berat, semakin tingginya tingkat konsumsi BBM masyarakat, subsidi tidak tepat sasaran, bocornya anggaran dan alasan-alasan lainnya.

Alasan yang pertama; tingginya harga minyak dunia. Sebetulnya persoalan ini udah perbah dibahas oleh ustadz Felix Siauw dalam tweet yang terangkum dialamat ini http://t.co/tLr2ms1x. Dalam tweet yang dikasih hastag #BBM beliau menyampaikan adanya campur tangan IMF dan pada dasarnya pemerintahlah yang disubsidi rakyat, mau lebih detail sila langsung dicek di alamat di atas. Sekarang serius, pendapat saya mengenai kenaikan harga minyak dunia ini, maka saya katakan itu wajar. Kan sebagaimana yang kita pelajari di sd dulu, bentuk bumi adalah bulat pepat, ada kutub utara dan kutub selatan. So karena bentuk bumi atau dunia ini bulat pepat, maka terkadang harga itu di atas dan tak selamanya juga di bawah. Jadi pemerintah saya minta untuk tidak gegabah dalam mengambil sikap.

Alasan kedua, besarnya beban pemerintah. Nah ini saya anggap hoax soalnya no pict, sebesar apa sih bebannya. Toh kalau pun beban itu memang benar-benar berat please deh ngga usah curhat ke rakyat, ngga banget deh. Apa kalian lupa, pemimpin kalian itu badannya besar, gizinya juga bagus, masak ngga kuat nanggung beban pemerintah, bandingkan dengan rakyatnya yang serba kekurangan, kurus-kurus, gizi jelek, suara sumbang masih saja mau dikasih bebannya pemerintah, kan kasian. Lebih parah lagi dengan naiknya harga barang-barang lainnya, sebelum dan sesudahnya apabila jadi dinaikkan

Alasan ketiga, tingginya tingkat konsumsi BBM. Ini lagi, logikanya kalau mobil atau motor bertambah, maka konsumsi BBM juga meningkatkan, so ini juga wajar. Kemarin saya menerima telepon dari salah seorang pengusaha di Kal-Sel, beliau memberitai saya, di Kal-Sel saja dalam 1 bulan ada tambahan mobil ± 500 unit mobil untuk satu merk pabrikan. Itu belum merk-merk yang lain, belum juga sepeda motor, alat berat atau klotok. Tentu mesin-mesin itu membutuhkan BBM agar bisa dioperasikan, masa’ mau dikasih makan rumput? Mungkin kijang atau kuda masih bisa terima, tapi bagaimana dengan si Civic, Land Rover, Ranger, Mazda dan merk-merk lainnya tentu mereka akan menolak. Mau dikasih minyak goreng? Nanti malah ibu-ibu yang ngamuk, minyak goreng langka.

Alasan keempat, tidak tepat sasaran. Di berbagai media massa pemerintah sesumbar bahwa kebanyakan yang menikmati subsidi BBM adalah orang kaya, bahkan presentasinya menyampai 80 % katanya. Tapi hal ini langsung dibantah oleh Ekonom Hendri Sapari dari Econit sebagaima yang dilansi disitu Eramuslim.com (28/3)

“Daridata Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2010 yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS), 65 persen BBM bersubsidi dikonsumsi oleh kalangan menengah bawah dengan pengeluaran per kapita di bawah 4 dollar AS dan miskin dengan pengeluaran per kapita di bawah 2 dollar AS. Ini survey BPS lho,” tegasnya dalam diskusi Masa Depan Ekonomi Indonesia yang diselenggarakan Institut Peradaban di Gedung BPPT, Selasa (27/3). Beliau juga menambahkan hanya sekitar 2 % orang kaya yang menikmati subsidi BBM.

Dan kalau pun sesumbar pemerintah itu betul, saya tidak kaget. Justru yang perlu diperhatikan oleh pemerntah adalah apabila ada orang miskin yang konsumsinya BBM sama atau malah lebih dari orang kaya. Padahal dia tidak mobil, motor, apalagi pesawat. Dalam seminggu misalnya bisa menghabiskan puluhan liter bensi, maka hal itu perlu dipertanyakan. Kalau orang kaya kan jelas buat operasional kendaraannya, kalau orang miskin bagaimana? Masih mending kalau ternyata BBM itu untuk air minum, mandi, atau mencuci pakaian, tapi bayangkan kalau ternyata bensin-bensin itu digunakan untuk membakar kantor-kantor pemerintah, istana, kantor dewan, gedung sate biar mateng satenya katanya, atau monas dan tempat-tempat lainnya. Mungkin kalau DPR akan gembira kalau rencana itu benar, biar bisa dapat kantor baru. Kalau hanya karena tidak tepatnya sasaran subsidi dicabut, maka biar fair pajak juga harus dicabut, kan yang lebih banyak menikmatinya adalah mereka yang mampu bukan rakyat yang membutuhkan.

Alasan kelima, bocornya
anggaran. Langsung aja deh, cari siapa yang udah nebar paku di jalanan sembari mencari tukang tambal ban. Atau kalau emank bocornya terlalu banyak, ganti aja bannya, banyak kok yang jualan ban.

Adapun Bantuan Langsung Masyarakat Sementara (BLMS) itu merupakan kewajiban pemerintah sekalipun masih ada subsidi, kepada rakyat yang miskin. Hal itu telah diterangkan dalam UU negara yang saya tumpangi ini, o iya tapi kan undang-undang itu buatan manusia yang sudah tentu banyak salah. Jadi sah-sah saja kalau pemerintah tidak melaksanakan UU itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s