UTS

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Melihat, dengan ini saya menyatakan benar-benar mengerjakan ujian sendiri, tanpa bantuan orang lain atau menyontek dengan bentuk apapun.”
Bogor, 2-3-2012

Itulah tulisan yang terukir dengan hitamnya tinta bolpen pilotku dibagian belakang lembar jawaban, kutulis dengan tangan kanan yang sebelumnya kugunakan untuk mencabik-cabik ayam goreng bersama dengan sambalnya yang merah. Sebenarnya aku ingin sedikit merubah redaksi pernyataan di atas, yakni pada kalimat ‘benar-benar’ menjadi ‘benar-salah’ tapi karena intruksinya salin kembali sebagaimana yang tertulis dilembar soal, jadi ya ngikut aja dan semoga menjadi doa. Toh dua kata di atas tidaklah penting kalau dibandingkan dengan 7 kalimat yang dihapus dalam dalam piagam Jakarta atau Jakarta Charter, “Ketuhanan Yang Maha Esa Dengan Kewajiban Menjalankan Syariat Islam Bagi Pemeluknya.”

Siang ini suasana kelas cukup panas, walaupun sudah ada 2 AC dan 2 kipas angin yang terpasang di rungan yang biasa dipakai mahasiswi ini. Mungkin si AC ingin memberikan kehangtannya kepada kami dibalik sikap dinginnya selama. Sadar akan perubahan sikap. si-Ac kami pun mengalihkan perhatian kami pada 2 kipas angin yang menempel di plafon. Yang menarik adalah perbedaan kinerja kedua kipas di atas, kalau kipas bagian depan, baling-baling berputar cuman kipasnya ngga, kalau bagian belakang kipasnya muter baling-balingnya ngga. Adakah maksud terselubung di balik ini semua? Apakah karena dulunya aku anak IPA, jadinya disuruh untuk menghitung besarnya daya yang dihasilkan oleh kedua kipas. Tapi yang jelas, aku yang duduk di bagian belakang beberapa kali mengusap keringat di wajah. Bisa saja situasi ini disengaja untuk menambah kesan dan menghidupkan suasana, agar kami ingat kalau panas yang kami rasakan saat ini tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan panasnya api nereka. Yups penanaman nilai-nilai tauhid.

Tadi juga sempat ada 2 teman yang disuruh ganti celana oleh pengawas ujian. Bukan karena mereka memakai rok mini, atau roknya di atas lutut, salah besar kalau anda berpendat seperti itu, tapi karena memakai celana jeans. Hukum asalnya sih boleh memakai apapun sampai kemudian adanya peraturan yang melarang untuk menggunakan jeans, rada-rada mirip dengan kaidah fiqih muamalah yang hari ini diujikan, tapi tidak perlu disama-samain. Kesimpulannya kita boleh memakai celana berbahan apapun asal bukan jeans, training juga tidak masalah. Dan ini pernah kejadian di kelas, karena peraturan dari dosen hanya melarang pernggunaan t-shirt, jeans, dan sarung, maka ketika ada teman yang memakai training ke kelas dosen cuma bisa senyum-senyum sendiri. Yang pentingkan dia ikut kuliah dan tidak melanggar peraturan.

Aturan mengenai pakaian ini hampir dapat kita temui di semua institusi, lembaga atau kantor, semuanya mempunyai aturan yang berbeda-beda dan beragam macamnya. Tapi aku tak terlalu perduli yang penting dan harus kita dahulukan adalah aturan universal yang tak terbatas oleh geografis negara, tak terhalang tingginya tembok dan tebalnya dinding, ya aturan dari Pemilik dunia ini. Jadi selama kita masih hidup di tempat ciptaan-Nya maka kita wajib mengenakan pakaian yang sesuai dengan aturan-Nya. Marilah kita lihat pakaian kita sudah sesuaikah, jika belum cepatlah ganti, sebelum kita mengenakan kain kafan di saat kematian kita. Kecuali kalau Allah mentakdirkan kita syahid, kita akan dikubur dengan pakaian terkahir yang kita kenakan.

Baru sadar tadi salah tulis bulan, sekarangkan sudah bulan April (re: 2-3-2012)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s