Hujan Yang Membakar

nampu

‘Hujan sudah berhenti, tinggalah rintik yang terbetik’. Loh emangnya rintik bukan hujan? Ya kadang agak bingung kalau mikir soal ini. Yang aku tahu hujan itu adalah air yang turun dari langit, tidak pernah aku menemui adanya ukuran-ukuran tertentu mengenai hujan, semisal, bisa disebut hujan apabila volume dan debet airnya mencapai sekian. Jadi sekarang masih hujan apa ngga? Ngga usah bingunglah jawabnya dan sebaiknya kita tinggalkan saja kebingungan ini sebab sepertinya hal ini tidak penting dan kaga bakalan keluar pas UN.


Hujan itu sangat penting bagi makhluk hidup. Buktinya ia sering disebut dan muncul diprakiraan cuaca. Bahkan di dalam al-qur’an kata –kata yang merujuk kepada hujan terdapat dalam banyak ayat, dengan berbagai kosakata yang penuh mukzijat. Dihadits pun demikian sampai-sampai ada do’a yang masyhur ketika hujan اللهم صيبا نافعا .

Pernah suatu waktu aku bertemu dengan hujan untuk kesekian kalinya. Ahad pagi, aku sudah menghabiska semangkok bubur ayam dan segelas teh tawar hangat kemudian aku berjalan ke Pasar Induk Jambu Dua yang berada di Belakang Plaza Jambu Dua yang aku makan di depannya. Yeah, pasar semakim berdekatan jaraknya padahal setahuku ada peraturan yang mengatur jarak antara pasar modern dan tradisional dalam rasio terntentu, mungkin ini satu lagi tanda akhir zaman. Hampir jam 7 tapi kulihat sekeliling pasar masih banyak yang belum buka. Agak janggal bagiku, aku pun mengungkapkannya dengan ngetweet. Tak lama ada teman yang reply tweetku tadi., dia bilang kalau pasar di jawa memang biasa gitu. Terus ku balas lagi, tapi inikan pasar induk, lagian ini tanah sunda bukan jawa. Selesai berkeliling aku menuju halte di perempatan Indraprasta, jambu dua menunggu seorang teman. Langit berubah mendung, kalau katanya Ebet G. Ade ‘mendung benarkah pertanda akan turun hujan.’ Ternyata kali ini jawabannya iya, hujan lebat mengguyur wilayah sana, aku kurang tahu hujannya tingkat local, regional, provinsi, pulau, negara atau kawasan. Yang kutahu guyurannya cukup teratur dan berirama tidak seperti saat kita mengguyur kotoran di toilet, sangat berbeda.

Sebelum sempat berpikir macam-macam, mangkel atau mengumpat-umpat ada sms masuk. Sms iyu dari teman yang tadi kutunggu, isinya kurang lebih “Masih nunggu di sana?, tadi udah mau berangkat Qadarullah hujan.” Ya tak sepantasnya kita mengumat hujan yang lewat perantaranya bumi menumbuhkan berbagai macam tumbuhan. Banyak wilayah yang kekeringan karena hujan tak turun di sana dalam waktu panjang. Jadi hujan itu qadarullah yang harus kita sikapi dengan bijaksana dan bijaksini.

Lumrah air dapat memadamkan api. Tapi kali ini tidak, aku menyaksikan pemadangan yang tak dapat kulukiskan karena aku bukanlah seorang pelukis. Aku menatap segerombolan anak muda yang dengan lantang dan penuh hirah berlari-lari sambil meneriakkan kalimat tauhid. Ketika itu hujan turun begitu lebatnya tapi kau tak basah, bukan karena tubuhku anti-air tapi karena aku terlindung di anatara koplel sma dan aliyah di sekolahku dulu. Tidak sepertiku gerembolan anak muda itu basah kuyup, bobot mereka pun bertambah oleh air air yang meresap dan menetes dari pakaian mereka, namun semangat mereka semakin menyala. Ternyata guyuran hujan tidak bisa memadamkan semagat mereka, sebaliknya semangat semakin terbakar. Lebih ajaib lagi, walaupun hujan telah membakar semangat mereka, tubuh mereka tidak ada yang gosong atau terpanggang.

Sholat Isya sudah selesai, beberapa temanku kembali ke asrama mereka. Aku memilij untuk berteduh di asrama Abu ‘Ubaid yang berada di sebelah masjid Abdurrahman bin ‘Auf karena asramaku ada di seberang jemabatan sementara huajan masih deras. Seorang teman duduk di teras depan asarama yang mengahadap asrama al-Maqrizi, tanpa perlu diinvetigasi apalagi disiksa terlebih dahulu dia dengan suka rela mengatakan kalau dia belum makan dan mau keluar komplek asaram buat makan. Dia duduk semabri menunggu hujan reda. Ada ungkapan menarik yang dia ucapkan di sela-sela butiran hujan yang meluncur ke bumi “aduh gimana ya. Kalau misalkan do’a supaya hujannya berhenti, tapikan hujan itu rahmat.” ( atau dengan redaksi yang semisalnya)

Nizam al-mulk, kamis 19 April 2012 menjelang maghrib

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s