(Tak) Berharap Untuk Bertemu

Foto Sampul

23 April 2012 setahun sudah wisuda berlalu. Wisuda yang sebenarnya tak begitu penting bagi seorang wisudawan angkatan 24 sepertiku, tapi cukup berarti. Cukup berbarti sebagai  momen untuk merefleksikan kembali nilai-nilai yang telah didapat selama ini dari berbagai peristiwa yang telah terjadi, yang diharap dapat menjadi sedikit bekal. Walau begitu wisuda hanyalah bagian kecil dari sebuah proses panjang yang setiap bagiannya adalah penting.

Air mata mengalir ketika itu, isak juga terdengar begitu dekat seakan ia berbisik kepada banyak telinga. Semua sadar tibalah waktunya untuk berpisah, menentukan pertemuan-pertemuan selanjutnya. Tangisan semakin menjadi bersinergi antara satu dengan yang lain, berjabat tangan, berdekap erat dan bernasihat rindu yang ternyata selama ini lama dipendam. Mungkin karena dulu waktu pertama kali bertemu kita tidak sempat bertangis ria seperti ini, mengapa juga dulu kita tidak mencicilnya saja.

Hari itu antrian panjang terjadi, bukan sedang mengantri bbm atau BLT atau pembagian zakat. Antrian panjang itu adalah barisan peserta wisuda yang hendak memasuki tenda resepsi wisuda. Kami berbaris dengan pasangan masing-masing layaknya pemain bola yang keluar menuju lapangan petandingan. Langkah kami perlahan, tak ada yang saling menadahului karena kami sadar betul ini bukan balapan atau lomba balap karung. Aku tak melihat ada yang nyorobot menyeruduk barisan depan, semuanya berlangsung tertib, tidak seperti antrian makan atau mandi yang penuh dengan intrik dulu. Baru kemudian setelah semua peserta wisuda berdiri di depan kursi mereka masing-masing, ih bukan, kursi sewaan mereka masing-masing maksudnya, mereka pun dipersilahkan duduk. Dan kayaknya walau tanpa kursi pun anak-anak tetap akan memilih duduk, ya semacam lesehan gitu, masak mau berdiri sekian jam. Tak perlulah kita bercermin dari pengalaman masa lalu karena bercermin itu pakai cermin bukan pengalaman, lah wong upacara yang bermenit-menit aja banyak yang duduk. Mungkin karena komandan atau pemimpin upacaranya kurang bisa mengusai lapangan sehingga suasana menjadi membosankan dan terlihat monoton, tidak ada jerit histeris atau lompatan jingkrk-jingkrak dari penonton.

Urutan nama yang dipanggil dimulai dari mereka yang mendapat predikat syahadah, yaitu mereka yang hafalannya minimal 5 juz, rata-rata kepondokan minimal 8, hafal hadits arbain dan berakhlak baik. Tahun ini ada 11 orang yang berhasil menyabet predikat tersebut, dari putra ada Firman, Ahmad, Adib, Wisnu, Caesario, Taufik dan sisanya adalah anak putri. Ya semoga mereka dan juga aku dan tak lupa kalian dikarunia syahadah kematiannya. Sungguh mendapat syahadah ketika wisuda saja begitu menyenangkan dan membanggakan orang tua kita apalagi kalau kita berhasil meraih syadah disaat kematian kita.

Riyan Jaya Syariar, kelas XII Madrasah Aliyah asal Pekanbaru,” akhirnya namaku pun dipanggil, tapi kok asalnya dari Pekanbaru. Seumur-umur aku baru sekali pindah rumah itu pun jaraknya hanya sekitar 3 tiang listrik ngga nyampai pindah kota atau pulau. Aku juga belum pernah bekerja, bersekolah atau pun sekadar bermain ke Sumatera. Jelas terjadi kesalahan dalam data yang dimuat tapi aku tetap bersyukur hal itu tidak dimasalahkan panitia dan aku tetap bisa diwisuda, aku tidak diskrosing atau pun diajukan ke persidangan dengan tuduhan pemalsuan data. Toh kesalahan sebetulnya tidaklah dari pihakku semata tapi lebih kepada panitia pelaksana sendiri yang kurang cermat dalam pendataan. Padahal malam harinya aku sudah melakukan klarifikasi asal daerah, dari yang sebelumnya Tapanuli Selatan menjadi Rantau, nah dari mana pula Tapanuli Selatan ini muncul. Dugaanku sih karena dulu aku menulis di data perpulangan asal daerah adalah Tapin Selatan, mungkin dikira aku salah tulis sehingga diganti menjadi Tapanuli Selatan sebab dianggap paling mendekati. Dan memang sih tidak ada nama kota atau daerah yang bernama Tapin Selatan, karena ini adalah nama kecamatan. Anehnya besok harinya yang muncul malah Pekanbaru, bukan Tapanuli Selatan atau pun Rantau. Walau begitu aku tetap maju, bangkit dari tempat dudukku di barisan kedua dengan toga hitam, celana hitam, songkok hitam, dan sepatu pdl hitam, tapi tak usahlah anda berspekulasi dan membayangkannya seperti black rider atau satria baja hitam.

Kali ini teman-teman sudah lebih maklum menyikapi sepatu pdl hitam yang kukenakan. Kalau dulu ketika pelantikan OP dan serah terima jabatan ada saja yang meributkannya, walau pun tak sampai ribut seperti supporter bola ketika timnya kalah. Sok kalau dipakai kan juga nanti ketutup celana panjang hitamnya, jadi penampakannya ngga jauh beda sama sepatu pdh. Dan yang melihatnya juga paling tidak mengetahuinya, kecuali kalau dia sudah tahu sebelumnya atau mencermatinya dengan penuh konsentrasi. Dan kurasa mereka akan lebih memilih berkonsitrasi ke orangnnya daripada sepatu. Selesai semua nama dipanggil lantas dilanjutkan dengan pembacaan ikrar alumni yang dipimpin oleh ustadz Rosyad, yang juga alumni kakak kelas kami. Isinya ikrarnya seputar komitmen pada syariat dan menjaga nama baik pondok. Bagaimana tidak baik, namanya kan diambil dari asmaul-husna, Assalaam.

Sebelum acaranya ditutup ada ucapan selamat tinggal dan jalan dari perwakilan santri yang akan meninggalkan dan yang akan ditinggalkan. Bertindak dari perwakilan yang meninggalkan adalah saudara Adha Raihannur kelas XII IPS MA dan dari perwakilan santri yang ditinggalkan adalah saudara Faisal Abda’oe yang secara bertepatan mereka berdua itu sekunsul denganku, Konsulat Antasari. Aku yakin ini murni kebijakan panitia tanpa adanya unsur nepotisme atau unsur kesukuan.

Permintaan maaf dan ucapan terima kasih pun meluncur dari mulut Adha kepada para asatidz, adik kelas, pegawai dan segenap keluarga besar Assalaam selama kami menimba ilmu di sini. Dan besar pula harapan kami terhadapa adik-adik kami agar menjadi lebih baik dari kami dan bisa mengambil ibrah dari kesalahan-kesalahan yang pernah kami lakukan di masa lalu. Tak lupa kami pun memohon doanya agar tetap istiqamah di jalan yang benar. Disampaikan juga sekilas perjalan 24 Ours, angkatanku, hingga tibalah hari ini, di mana kita harus memilih jalan kita masing-masing setelah sekian tahun kita menjalani berbagai hal, duka dan suka bersama. Sempat juga disisipkan ungkapan-ungkapan bahasa Banjar yang tentu saja hanya sebagian dari kami yang paham.

Adapun ucapan selamat jalan diawali dengan sebuah lantunan ‘Selamat Tinggal Sahabatku’ Cuma dengan sedikit perubahan lirik, kata aku diganti dengan kata kau.

Selamat tinggal sahabatku

Kau kan pergi berjuangan

Menegakkan cahaya Islam

Jauh di negeri seberang

Itulah sepernggal baitnya, lengkapnya mungkin bisa googling sendiri sekalian lagunya.

Kalau aku dulu sih ketika wisuda sebelumnya ketika disuruh menyampaikan ucapan selamat jalan sebagai perwakilan santri yang dtinggalkan memilih untuk lebih fokus pada nasihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ibnu Abbas, ‘Jagalah Allah, maka Allah akan menjagamu,’ ‘Jagalah Allah, maka kau akan mendapati Allah berada dipihakmu.’ Waktu itu aku memang tidak membuat teks pidato, mengetahui hal itu panitia mengintruksikan kepadaku agar membawa sebuah map yang isinya daftar absen tamu. Sampai di belakang mimbar kubukalah map itu, kubiarkan begitu saja tanpa, soalnya amanahkau adalah berpidato bukan mengabsen tamu udangan. Walau begitu sesekali aku melirik ke arahnya, kan sayang sudah dibawa masak dicuekin.

Sungguh diri ini (tak) berharap tuk bertemu, tapi jikalau Allah mengijinkan kita tuk bertemu di dunia ini semoga pada saat itu iman dan takwa kita sedang dalam keadaan bertambah. Adapun yang kurahapkan dan ini termasuk dari doaku adalah semoga kita dapat berjumpa kembali di jannah, al-liqa’ fil jannah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s