Indahnya Juang

Membayangkan ksatria-ksatria di masa lalu, dengan baju besinya, tombaknya, pedangnya, panahnya serta kuda putih yang ditungganginya kadang membuat kita merasakan sebuah perasaan heroik, walaupun cuma menontonnya dari layar kaca televise atau bioskop. Beberapa waktu yang lalu ada teman  yang ava-nya pakai photo si Legolas salah satu tokoh di film Lord of The Rings. “Manah, berkuda.. aih.. Legooo,” seperti itu komennya. Emang keren sih kalau dibanding guwe yang bocah ini. Tapi aku juga yakin temenku ini aslinya lebih keren dan hebat dari ava-nya, si Legolas.

Yah memanah dan berkuda adalah aktivitasnya seorang ksatria yang istimewa, sampai-sampai Umar bin Khattab pernah berkata :

 علموا الاودكم السباحة والرماية وركوب الخيل  


“Ajarkanlah anak-anak kalian berenang, memanah, dan berkuda.”

Kalau kita membaca buku-buku sejarah atau menyimak cerita-cerita kepahlawanan, ada sisi lain dari kehidupan para pejuang dan pahlawan. Ternyata di balik perang yang mencekam, di bawah ayunan pedang yang belumur darah, atau ketegangan yang meliputi diri ada kisah-kisah romantis yang menyertainya. Mereka memang garang di medan juang, tangkas dikala laga, cekatan dalam menebas leher musuh, namun senyum tulus, kelembutan, dan perhatian kasih pun sulit untuk ditandingi orang-orang biasa.

Kematian yang terlihat begitu dekat yang selalu bersama mereka di medan tempur, membuat setiap pertemuan dengan kekasihnya walau hanya sesaat, dijadikan momen untuk melepas segenap perasaan dan rindu. Mereka akan mencurahkan kasih dan sayangnya pada kekasihnya seakan besok setelah matahari terbit, mereka tidak akan berjumpa lagi dengannya. Maka menurutku cinta yang paling romantis adalah cinta di medan juang.

Adalah Khalid bin Walid, seorang pemuda quraisy yang semasa kafirnya merupakan musuh besar Islam, sampai kemudian hidayah Islam mengatarkannya untuk bersyahadat dan memeluk Islam. Maka setelah peristiwa itu jadilah dia ksatria Islam, panglima besar yang telah memimpin berbagai peperangan dan penaklukkan kaum muslimin dari masa Rasululllah shallahu ‘alaihi wa sallam sampai khulafaur rasyidin.  Hebatnya lagi, dalam setiap peperangan yang dipimpinnya, pasukan kaum muslimin tidak pernah kalah satu kalipun, tentu saja dengan ijin dan pertolongan Allah tentunya. Namun hal itu menunjukkan Khalid bin Walid memang ksatria sejati, baik di masa jahiliyah terlebih di masa Islam. Tubuhnya penuh dengan luka bekas sebetan pedang, tombak, panah dan luka-luka lainnya. Kehebatan dan ketangguhannya dalam berjihad itulah yang kemudian menjadikannya dia dijuluki ‘Syaifullah’, ‘Pedang Allah’ yang selalu terhunus.

Nah, tak jauh beda dengan ksatria-ksatria yang lain, selain garang di medan pertempuran, Khalid juga mempunyai sisi romantis dalam hidupnya. Itu terlihat dari salah satu perkataannya :

Sungguh malam yang dingin di medan perang lebih aku sukai daripa malam pertamaku bersama seorang perawan“(Khalid Bin Walid)

                Menurutku, ini adalah salahsatu perkatan paling romantis dari seorang pecinta yang tulus, yang apabila mencinta ia tidak menyandarkan cinta pada sesuatu yang rapuh, sebaliknya dia akan menyerahkan cinta pada Dzat Yang Besar dan Perkasa. Mereka saling mencintai karena Allah sehingga kematian tidak akan memisahkan mereka, sekalipun raga tak lagi dapat berkumpul, sekalipun tubuh sudah tak lagi berbentuk, sekalipun lisan tak dapat lagi merayu mesra. Karena mereka yakin, cinta yang mereka bangun di atas pondasi kecintaan dan ketaatan kepada Allah akan selalu abadi dan dipelihara oleh-Nya, dengan rahmat-Nya tentunya.

Sungguh, kalimat yang diucapkan Khalid di atas tidak bisa dibandingkan dengan perkataan-perkataan gombal para remaja yang sedang terjebak dalam jerat yang namanya pacaran. Kata-katanya mungkin indah, tapi hanya berada di dasar tak sampai meresar di jiwa. Kata-katanya mungkin menarik, tapi tak hidup sehingga tak mampu tuk membuat gerak, tak lebih dari sekadar bualan yang teridiri dari rangakain huruf-huruf bersambung. Bahkan tak sedikit yang alay, demi cinta katanya lautan berapi pun akan ia seberangi, gunung setinggi apapun akan ia daki, dan kalimat-kalimat alay lainnya.

Aku kadang membayangkan ada seorang istri yang menjawab pernyatan Khalid di atas :

“Sungguh kepergiannya di malam pertama kami lebih aku sukai, lalu kemudian ada kabar yang mengatakan telah syahid fulan bin fulan. Sungguh dia suamiku ucapku di dalam hati, meneteslah air mata mengalir seiring bergoncangnya hati dan berharap aku akan segera menyusulnya. Karena aku tahu pertemuan di jannah lebih indah dan kekal daripada malam-malam yang panjang di dunia yang fana ini.”

Duh indah nian kalau ada yang seperti itu, walau pun itu baru sekadar bayangan, karena untuk mewujudkannya tentu paling tidak kita berada selevel dengan Khalid. Ksatria yang menggadaikan cintanya di jalan jihad.


 

 

One thought on “Indahnya Juang

  1. Sal Juni 2, 2012 / 7:53 pm

    aku lempar cendol gan😀 :cendol:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s