Sillah Ukhuwah dengan Ketum Garis

Sabtu, 19 Mei 2012 yang lalu kita sillah ukhuwah ke rumah H. Chep, ketua umum GARIS (Gerakan Reformis Islam) di Cianjur. Kami berangkat dari bogor sekitar pukul 09.00 pagi dan sampai di kediaman beliau menjelang dzuhur. Di depan terdapat spanduk dan berbagai himbauan yang terikat di pagar rumah berwarna putih itu. Diantara isi himbauannya adalah agar memakai jilbab, beberapa dari kami tersipu, termasuk aku. Karena kita tidak memakai jilbab.

Gerbang di buka, mobil Xenia yg kami kendarai masuk ke dalam, disambut beberapa orang yang jumlahnya tidak kalah banyak dengan yang di luar. Berjejar pula beragam jenis mobil dengan almamaternya masing-masing. Ada mobil FUI, Mer-C dan tentu saja mobil GARIS sendiri. Selain mobil operasional, ada juga ambulan yang peruntukkan gratis bagi mereka yang kurang mampu.

Turun dari mobil, tak lama adzan berkumandang. Kita pun memutuskan untuk sholat dulu di mushollah yang terdapat di belakang rumah beliau. Selesai sholat, dengan jamak karena kita sedang musafir, kita yang berjumlah 10 orang (6 ikhwan dan 4 akhwat) dipersilahkan masuk ke dalam. Dan bertepatan, kursi ruang tamu tempat kami akan berbincang, sesuai kapasitasnya, 10 orang tidak lebih dan kurang.

Terlebih dahulu, setelah salam diucapkan, perwakilan dari kita memperkenalkan satu per satu diri kami juga menjelaskan maksud dan tujuan. Maksud kami berkunjung, selain untuk menjalin ukhuwah, juga ingin membangun kerja sama dengan GARIS sendiri. Dilanjut kemudian dengan mendengarkan wejangan dari beliau. Menurut beliau, kita harus bisa memposisikan diri dalam mengambil peranan di tengah masyarakat. Bagaimana kita harus memposisikan diri dalam dakwah, amar ma’ruf nahi munkar, maupun jihad.

Tentu metode masing-masing itu berbeda, tidak bisa disama ratakan satu dgn lainnya.
Dakwah misalnya, harus dengan hikmah dan mau’idzatul hasanah. Beda dengan amar ma’ruf nahi munkar yang harus tegas. Begitu juga kalau kita sedang berhadapan dengan tentara israhell di Palestina, maka itu sudah ranah jihad, bukan dakwah/amar ma’ruf nahi munkar lagi. Selain itu kita juga harus memperhatikan kehidupan masyarakat yag kurang mampu dan berkontribusi untuk membantu mereka. Misal, apabila ada yang sakit dan dia tidak mampu, maka Garis akan menjemputnya dengan ambulans dan membiayainya sampai sembuh.

Beliau juga menyemangati kita untuk tetap istiqamah dalam berjuang, jangan sampai jika sudah berpunya malah melempem. Masa ketika hidup pas-pasan berjuangnya gigih, ih pas udah sukses
malah lupa berjuang.. Harusnya sebaliknya, kalo udah sukses lebih semangat berjuanganya.

Dan sebelum obrolan ditutup dan dilanjut dengan sesi pemotretan, ada pernyataan menarik yang beliau sampaikan.

“Bukan bermaksud sombong, dengan kekayaan dan aset yang saya miliki saat ini, tanpa bekerja pun saya sampai 7 turunan tetap bisa makan. Bahkan tiap tahun bisa umrah. Tapi bukan yang seperti itu yang saya inginkan. Saya ingin ketika saya meninggal peluru menembus dada saya.”

Kurang lebih seperti itu ucapan beliau. Dari kisah di atas, ada beberapa pelajaran yang bisa kita ambil; bahwa kekayaan bukanlah jaminan kebahagiaan dan bukan pula berarti Allah ridlo.Seorang yang sudah kaya bisa saja berpikir akan menikmati sisa hidupnya dengan ‘ketenangan’ jauh dari ‘bahaya’. Tapi ada juga yang malah semakin mendekatkan diri pada hal-hal yang dianggap ‘berbahaya’ untuk kehidupannya di dunia

cianjur
gw yg ngga pake jilbab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s