Mengenal Hikayat Banjar

Hikayat Banjar adalah sebuah manuskrip tua yang telah dikenal di Daerah Kalimantan Selatan sejak zaman Kerajaan Banjar. Nama Asli dari manuskrip tersebut ada beberapa macam, seperti misalnya; Hikayat Lambung Mangkura, Tutur Candi, Hikayat Raja-Raja Banjar dan Kota waringin, Ceritera Lambung Mangkurat dan Turunan Raja-Raja Banjar dan Kota Waringin.

Dalam Hikayat Banjar ini disebutkan Keraton I sebagai Negara Dhipa, Keraton II sebagai Negara Daha, dan Keraton III sebagai Bandarmasih, serta Keraton IV sebagai Kayu Tangi. Hikayat Banjar dibagi menjadi 2 bagian, bagian pertama disebut Risensi I yang kebanyakan berisi perisitiwa-peristiwa yang menjurus pada puncak peristiwa, yaitu pemberontakan Keraton III dan bermulanya era Islam. Sedangkan bagian kedua yang disebut dengan RIsensi II lebih banyak menceritan mengenai Keraton I dan II, menceritakan tentang masa lampau yang legendaris.

Oleh karena itu, mengenai penulis Hikayat Bnajar itu sendiri tidak diketahui secara pasti siapa penulisnya. Namun diyakini Hikayat Banjar ditulis oleh banyak orang. Hikayat Bnajar juga digunakan oleh pihak kerajaan untuk meleginitasi kekuasan. Karena itulah terdapat bermacam-macam cerita yang agak berlainan versinya.

Naskah asali Hikayat Banjar ditulis dengan tulisan tangan dalam bahasa Melayu serta menggunakan huruf Arab gundul. Dikatakan bahasa Melayu, sebetulnya kurang tepat karena terdapat banyak perbedaan dengan bahasa Melayu Riau dan Johor, serta lebih banyak Bahasa Banjarnya dengan campuran kata-kata yang mungkin berasal dari baha Dayak, Jawa, Jawa konu, bahasa Bali dan laini-lain.

Dalam abad XIX perhatian para sarjana Eropa terhadap Hikayat Banjar ini cukup tinggi. Pada tahun 1825 Thomas S. Raffles, telah meminta pada Sultan Pontianak sebuah copy darI Hikayat tersebut. Sultan Pontianak mendapatkan copy tersebut dari KOta Waringin, yang mungkin berasal dari milik Kerajaaan sendiri. Dari tahun 1845 copy dari Hikayat Bnajar tersebut telah menjadi milik British Museum.

Tahun 1857 J. Hageman menulis sebuah karangan yang berjudul; Bijdrage tot de Gaschiesdenis van Borneo, dalam Tgb 6 atau “Suatu Sumbangan untuk Sejarah Kalimantan.” Yang kedua adalah tulisan A. van der van, dalam tahun 1860. di samping memeberikan informasi mengenai keadaan kerjaan semasa pemerinthan Sultan Adam, ia juga memuat cerita yang mungkin bersal dari Risensi II. Judul tulisannya adalah; Aantaekeningen Pmtrent it Rijk Bandjermasin (Beberapa catatan mengenai Kerajaan Bnajr), yang dimuat dalam TGB 9. Tahun 1861 J. Hageman kembali menulis tulisan yang berjudul; Coschiedkundige-Aanteekeningen Outrent Zuidelijk Borneo (Catatan Sejarah mengenai Kalimanatan Selatan, TNI.Dalam tulisannya tersebut, dimasukkannya pula silsilah Raja-Raja Banjar, lengkap dengan angka tahunnya yang ia dapatkan dari sumber daerah.

Setelah itu pada tahun 1877, terbit pula karangan E.S.A de Cleq dengan judul; De Vroegste Geschiedenis van Bandjermasin (Sejarah Banjarmasin yang paling awal), dalam TBG 24, dengan isinya yang diambil dari Risensi I. Barulah 22 tahun kemudian terbit karangan J.J. Mayer, yaitu; Bij dragen tot de Kennis der Geschiedenis van hot voormaling Bandjermaische Rijk, thans Residentie Zuid en Ooterafdeeling van Borneo (Sumbangan pengetahuan sejarah Kerajaan Banjarmasin dahulu, sekarang Resdien afd. Selatan dan Timur Kalimantan), dalam Indische Gis 213, jg., colom I, tahun 1899 yang bahan-bahannya diambil dari manuskrip miliknya sendiri yang berisikan unsur-unsur dari Risnesi I dan II, sejumlah bahsa lisan yang didapatnya ari daerah Tabalong dan Kelua, ditambah dengan sebuah silsilah Raja-Raja yang agak terperinci. Namun yang terpenting dari semua itu, adalah Dissertasi A.A Conse tahun 1928 yang berjudul; De Kroniek van Bandjermasin (Kronik Banjarmasin). Sanpoort, 1928.

Baru sekitar tahun 1930-1931 ada penulis yang menulisnya dengan bahasa Melayu Modern, yaitu Anang Acil, gelar Kesumo Negoro, yang menulis buku Lambung Mangkurat atau Sejarah Banjar. Kemudian juga dikenal nama seperti Gusti Mayur, SH. dan diterbitkan oleh Pendidikan Umum. Isinya, sesuia denga apa yang disebutkan oleh penulisnya sendiri sebagai; “Ringakasa dari sebuah gubahan Pujangga tua, yang kemudian kami susun dengan mengikuti sebagian dari Dissertasi A.A. Cense.” Pada hakekanya buku tersebut, tak lain adalah terjemahan dari Risensi I A.A. Cense.

sumber: “Hikayat Banjar” terbitan Museum Lambung Mangkurat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s