Si Kunci dan Pintu

Ada yang memanggil, aku berpaling dan memutar arah vario yang kukendarai. Itu Huda teman sekontrakanku. “Mau ke mana? Tanyanya.

“Ke tempatnya Reza? Kataku.

“Ngapain, mau nonton? Dia Tanya lagi. Aku agak lama jawabnya, mungkin sedikit ragu. Untungnya ini bukan lomba cerdas cermat. Yang kalau jawabnya rada lambat, pake bengong segala lagi, bakalan ada bel yang berbunyai, tenot.. waktu habis. Ini bukan kuis kawan, ingat itu! Terus aoa untungnya aku jawab pertanyaannya, Kalau jawabanku benar pun pasti dia ngga mau ngasih hadiah. Eh,eh,ehe tapi dia kan ngga minta aku nebak jawab benar atau salah, yang dia tanyain aku mau ngapain.

“Ada urusan,” gitu aja jawabku, ngga bohong sih tapi kurang jelas aja. Maksud hati yang sebenarnya sih buat ngecek si Iman yang ditanyain sama si Arif. Toh kalau akau bohong dia juga ngga tahu, jadi ngapain bohong kalau dia juga ngga tahu kalau aku bohong. Jadi jawab sekenanya ajalah.

Kurogoh kantong kanan gamis yang kupakai, ada kunci kontrakan di dalamya. Sebelum aku kembali melanjutkan perjalan singkatku ke kontrakan reza di jalan ikhlas komplek Az-Zikra, kukasih kunci sama si Huda. Kunci kontrakan tadi maksudnya, bukan kunci hati ini, yang entah siapa nanti yang mendapatlkannya atau malah dia punya kunci sendiri yang cocok ,, haahhh entahlah.

Ada sms, ternyata si kunci hilang tulis si Huda. Sudah dicari- cari tapi ngga ketemu juga. Aku pun pulang ke rumah. Sampailah kami di depan pintu rumah yang terkunci. Pintunya sih diam aja, tak bergeming apalagi menangis. Hanya kami saja yang mungkin terlalu resah memikirkan pasangan hidupnya, s ikunci. Karena si pintu cuek, gitu kesan yang kutangkap, akhirnya, walaupun ini bukan akhir dari segalanya, si Huda masuk lewat ventalasi di atas jendela. Iya ventelasi yang baru ada tadi pagi menjadi ventelasi setelah kaca yang menutupinya dilepas.

Seperti itulah mungkin kisah bersambung, saling berkait antara satu denngan yang lain. Antara pintu dan jendela. Sebelum si kunci hilang terpikirlah oleh kami untuk membuka kaca di atas jendela, tujuannya sih biar ada angin yang masuk. Tapi siapa sangka si pembuka juga ikut-ikutan masuk lewat sana.

Pintu belakang di buka, aku pun masuk. Besok harinya kita mau tanya ke si teteh yang punya kontrakan, adakah dia punya kunci sirepnya. Sebelum si Huda tanya ke tetehnya, si Iman ngasih tahu kalau si teteh belum duplikat tu kunci.
Malam harinya si Agung main ke rumah, rebahan di ruang tamu sambil ngobrolin lantainya yang dingin. Dia bilang kalau di rumahnya ada kunci yang bisa masuk ke pintu rumah ini. Ya udah gung coba aja kataku. Lalu dia ke sebelah ngambil kuncinya.

Dengan kunci yang ada di tangan dia memulai aksinya. Digotak-gotaknya tuh pintu, terus begitu sampai akhirnya kebuka. Dulu katanya pas masih di pondok sempat dituduh maling karena keahliannya ini. Selamat kawan kau berhasil. pintu itu terbuka dengan kunci yang berbeda. Bahkan kau dapat mengunci dan membukanya lagi. Tentu dengan belaianmu yang khas yang kami tidak bisa.

Cipambuan, depan pintu yang terbuka Jum’at, 28 Dzulqa’dah 1434/ 3 Oktober 2013 23 :50

Hari berganti jum’at, terpaksa tulisan ini dilanjutkan karena kuncinya ketemu. Tadi pagi sebelum berangkat ke kampus sekitar pukul 09.17 kita makan dulu di warung umi. Eh si teteh nyerahin kunci ke Huda, iya itu kunci kontrakannya. Alhamdulillah.

Kalau Kata si teteh sih, si Huda kan kemarin ngambil sendiri nasinya, nah kemungkinan kunci itu jatuh pas ngambil nasi itu. Si umi nemu kuncinya pas lagi nyapu ceritanya. Kunci sudah ketemu, serakang si Hud harus jalanin nazarnya baca yassin 3 kali.
———–
Wahb Ibn Munabbih pernah ditanya,” Bukankah kunci Surga adalah لا إله إلا الله ?” Dia menjawab,” Benar. Namun tidaklah ada satu kumci pun melainkan pasti memiliki gerigi. Jika engkau membawa kunci yang memilki gerigi niscaya akan terbuka untukmu. Dan jika tidak, maka tidak akan terbuka untukmu.” (HR. al-Bukhari secara mu’allaq)

Kawan, ada pintu yang kita semua dambakan melewatinya. Pintu yang mengantarkan kita pada kenikmatan abadi tiada tara. Sebuah janji yang pasti akan ditepati Rabb pemilik dunia. Surga biasa kita menyebutnya, dalam mimpi, cita, harap dan doa.

Tidak seperti pintu rumah kontarakan atau kos kita. Pabila hilang atau pun patah dan rusak, masih ada duplikat atau sirepnya. Bisa dibobol, bisa dijebol. Banyak tukang kunci yang bisa mengakali. Bahkan ada maling yang bisa masuk mencuri tanpa harus melawati pintunya.

Agar dapat membuka pintunya kita harus mempunyai kunci yang tepat. Yang sesuai dengan gerigi-gerigi yang terpahat. Diukir indah ikhlas dan taat. Berkarat dengan laku jahat dan maksiat. Mustilah terjaga selama hidup hingga akhir hayat. Sampai kaku badan menjadi mayat.

لا إله إلا الله

tauhid
tauhid

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s