Menteri Kehutanan dan Menteri PerWCan

qohe

qohe

Eh masa aku dibilang jayus, kan namaku jaya. Lengkapnya Riyan Jaya, temanku ini juga aku yakin tau dengan sangat jelas namaku kok. Entah apa maksudnya bilang gitu, apa gara-gara ngga lucu jadi dibilang jayus. Emang sih kuakui ngga lucu, tapi kan ngga setiap yang ngga lucu itu jayus.

Oke kawan. Kita akan mulai serius supaya ngga dibilang jayus lagi. Kalau kawan-kawan sekalian pernah main ke Bogor. Main bola, basket, layangan atau main apalah. Karena memang kehidupan dunia ini hanyalah permainan. Namun karena kita bukanlah mainan dan kita adalah makhluk hidup yang akan merasakan mati. Masih pantaskah kita bermain-main dalam mempersiapkan kehidupan akhirat yang haq.

Agar tidak memperpanjang permainan ini, kita ganti saja pernyataannya. Kalau kawan-kawan pernah berkunjung ke Bogor, coba lewat depan IPB Pasca Sarjana. Di sana ada pintu masuk underground ke Kebun Raya. Udah ngga kepakai sih sekarang. Akan tercium bau pesing di sekitarnya, sekalipun tanpa sengaja atau niat sebelumnya tetep aja kecium.

Sebenernya ngga cuma di sana sih, di banyak tempat di negeri ini juga begitu. Bisa di taman, di got-got samping jalan, di halte, di bawah pohon-pohon gede, di ujung-ujung gang dan tentu saja di wc-wc umum yang tidak terawat. Bau dan pesing!!!

Padahal masalah kencing ini sama pokoknya dengan persoalan makan minum. Dua kegiatan ini mempunyai bahan baku yang sama dengan proses yang berkesinambungan. Kelaparan dan kebelet itu sama-sama mengandung penderitaan, ngga enak.

Dalam perbankan atau pun perusahaan kita sering mengenal istilah cash flow atau aliran kas. Sebuah bank atau perusahaan kalau ingin keuangannya sehat tentu harus memperhatikan aliran kasnya. Bagaimana memperoleh dana dan menggunakannya. Ngga perlu yang namanya check-up ke dokter.

Pun demikian manusiah kalau ingin sehat harulah memperhatikan food flownya. Ia harus memperhatikan makanannya, tidak hanya halalnya tapi juga enaknya. Begitu juga dalam menyalurkan sisanya, harus kita perhatikan betul. Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan kepada umatnya agar bersikap hati-hati dalam hal ini. Jangan kita kencing atau berak di depan orang banyak., di depan satu orang juga jangan sih. Menghindari tempat-tempat yang biasa dilewati manusia. Dan pabila sudah selesai hendaklah membersihkannya, istinja’.

Dikisahkan dahulu, saat barat gelap gulita, karena memang lampu-lampunya belum seterang sekarang. Kota-kotanya kumuh dan kotor. Makhluk-makhluk yang menghuninya, manusia atau pun hewan tidak beda jauh kelakuannya. Mereka buang air sembarangan. Kontras dengan peradaban Islam pada saat itu, yang apabila sorang berkunjung ke kotanya, tampaklah bangunan-bangunan yang tertata rapi. Taman-taman yang indah dan juga toilet-toilet umum yang tersebar di seluruh kota. Sehingga kebersihan dan kenyamanannya betul-betul terjaga.
Bayangkan kalau masa itu kembali, tentu kita tidak akan menemui lagi abang-abang yang sukanya menepi di bawah pohon, di samping saluran air, di taman-taman yang tidak teramat dan tempat-tempat lainnya hanya untuk menyiraminya dengan air kencingnya.

Di samping itu toilet juga merupakan tempat menjadi penilaian terselubung seseorang dari suatu tempat. Yang akan terkenang dalam perjalanan hidupnya. Dan pabila sempat biasanya ia akan mampir lagi kalau toiletnya bersih dan nyaman. Sehingga spbu atau masjid-masjid yang wc-nya memenuhi standar kepuasaan konsumen akan cepat menyebar dan ramai dikunjungi berulang kali.

Lokasi strategis merupakan hal penting yang harus ditangani secara serius. Karena mules dan kebelet pipis itu bisa datang kapan dan di mana saja. Maka perlu adanya standarisasi toilet yang tersebar di titik-titik tertentu. Pun kebersihan dan kenyamanannya perlu sangat diperhatikan. Soalnya begini, walaupun hajat yang kita buang itu pesing dan bau tentu kita akan lebih nyaman kalau tempat pembungannya itu bersih dan wangi.

Begitulah kawan. Kalau kata temenku tadi dia sering keluar masuk hutan sehinga mungkin cocok menjadi menteri kehutanan. Lalu bagaimana dengan aku, kamu, dia dan kita yang sheari-hari masuk ke wc atau toilet, adakah kita cocok untuk menjadi menteri per-wc-an???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s