Tertib Belajar

Dramaga, Dermaga atau Darmaga enatah apa nama sebenarnya daerah ini. Sering juga disebut macet pada pagi dan sore hari, kala angkot menghijaukan jalanan. Begitu pun tadi, ketika kami berkendara dari matrikulasi menuju Pesantren Persis 112 di Warung Jambu. Angka 112 menunjukkan urutan pembangunan pesantren.

Melewati Yasmin, Jalan Baru , fly over yang tak kunjung jadi, dan tentu saja jalanan yang berkelok ke kiri dan kanan, akhirnya kami sampai ke sana. Walaupun sempat terlewat sekian meter, alhamdulillah masih ada kesempatan untuk kembali berputar dan masuk melewati pintu gerbang pesantren.

Tak ada yang menyambut, bahkan sekadar satpam pun tak ada yang mencegat. Para santri tampak jelas di mataku sedang berdiri, ruku’, sujud, duduk yang terangkai indah dalam sholat isya. Kalau katanya orang tidak ada kata terlambat selama kita masih mau memperbaiki diri, tapi tidak kali ini dan kali-kali yang lain jelas aku terlambat. Aku tertinggal 3 rakaat sholat.

Para santri yang mayoritas memakai celana panjang itu selesai lebih dulu dariku. Hal ini bukan berarti sholatnya mereka cepat atau ngebut, sungguh mereka hanya santri biasa bukan Marcquez yang sedang memimpin klasemen Moto GP saat ini. Ngga usah heranlah, kan wajar kalau mereka selesai duluan karena tadi aku masbuk 3 rakaat, bukan 3 lap.

Masjid telah kosong, aku masih berbincang dengan Miftah. Santri-santri itu terdengar dan terlihat sedang makan, apakah mereka lapar atau tidak aku tidak tahu. Kami beranjak dan berjalan menuju 2 orang santri putra yang sedang makan. Kami duduk kembali dekat mereka dan mengajak ngobrol keduanya. Keduanya kemudian menghentikan makannya, eh lanjut aja kata kami. Atau jangan-jangan mereka takut kami bakalan minta mereka punya makanan di piring. Lihat saja selain menghentikan makannya, piringnya di letakkan di balik badannya. Seolah-olah ingin melindunginy dari sorot pandang mata ini.

Kami pergi meninggalkan mereka, memberikannya kesempatan untuk menghabiskan makanannya. Kini saatnya kami juga makan, di warung soto kudus di depan pesantren. Selesai kami pun kembali kembali ke pondok. Suasannya ramai namu gelap, listriknya ternyata mati. Bukan hal yang mengejutkan karena tadi juga sudah sempat mati sebentar seuisai sholat isya.

Teras masjid tidak lagi hanya di duduki oleh pantat-pantat 2 orang tadi. Sekarang banyak pantat duduk di atas. Mereka sedang hafalan, begitu yang kutangkap dari suara dan gerak-gerik mulut meraka. Di tangan mereka ada yang sedang memegang al-qur’an atau pun buku pelajaran sepertinya. Menurut yang tadi makan ketika kami tanya, sekarang ini memang lagi musim uts.

Coba perhatikan photo di bawah, gelap iya emang gelap. Lampunya hanya sebagian yang dinyalakan, daya listrik di pesantren in kurang kuat sepertinya. Lihat di pojok kiri, ada seorang yang lagi hafalan memakai helm. Entah apa maksudnya dan maunya. Apa mungkin dia mengikuti kiat magneto yang memakai helm agar professor x tidak dapat mengendalikan pikirannya. Atau sebagai bagian dari keselamatan belajar. Itu urusan dia. Kita tidak berhak menilang teman-temannya yang karena tidak memakai helm, hanya karena dia sendiri yang memakai helm.

112
112

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s