KONEKSI; Dari SDI Sampai pada Membumikan Ekonomi Islam di Masyarakat

koneksi saat di bogor islamic book fair
koneksi saat di bogor islamic book fair

Bogor- Untuk lebih mengenalkan ekonomi Islam kepada masyarakat, Komunitas Ekonomi Islam Indonesia (KONEKSI) mengadakan diskusi ekonomi syariah remaja, kamis sore (26/12). Bertempat di panggung utama Bogor Islamic Book Fair 2013, komplek Masjid Raya Bogor, diskusi menghadirkan para pembicara yang memprakarsai berdirinya KONEKSI. Mereka adalah Ahmad Musyadad, Lc, MEI, Anto Aprianto S.Pdi, Muhammda Ridho Hidayat, S.Hum dan Adi Setiawan, Lc, MEI.

Anto yang bertindak sebagai pembicara pembuka menjelaskan sejarah ekonomi Islam di Indonesia. Menurutnya sebagian kita kalau ditanya tentang kapan pertama kali ekonomi Islam lahir di Indonesia, maka mayoritas akan menjawab tahun 1992, ketika berdirinya Bank Muamalat. Padahal menurut pengusaha Kaos Bogor ini, ekonomi Islam telah ada bersamaan dengan hadirnya Islam dan melembaga pada saat terbentuknya Sarekat Dagang Islam.

“Secara alami ekonomi Islam ada bersamaan dengan masuknya Islam ke Indonesia dan mulai melembaga saat masa Sarekat Dagang Islam,” ujarnya.

Tahun 1949 terbitlah buku berjudul Dasar-Dasar Ekonomi Islam yang ditulis oleh Zainal Abidin, setelah terselenggaranya Konfrensi Ekonomi Islam di Karachi, Pakistan. Kemudian pada tahun 1982, A.M Saefuddin mendirikikan Pusat Studi Ekonomi Islam di Universitas Ibnu Khaldun Bogor dan 2 tahun kemudian Dawam Raharjo menerbitkan buku Studi Nilai-Nilai Sistem Ekonomi Islam

Adapun menurutnya tokoh yang jarang disebut peranannya dalam perjuangan ekonomi Islam di Indonesia adalah M. Natsir. Diceritakannya ketika diselenggarakan Konfrensi Ekonomi Islam di Mekkah tahun 1976, 8 wakil Indonesia yang hadir semuanya melalui seleksi dan rekomendasi Natsir. Konfrensi inilah yang kemudian disebut dalam banyak literatur sebagai konfrensi ekonomi Islam pertama di dunia.

“Walaupun ada 2 orang yang mendapat undangan langsung dari panitian konfrensi, untuk dapat bernagkat tetap harus mendapat rekomendasi Pak Nastir,” tuturnya.

Begitu juga ketika menjelang didirikannya Bank Muamalat pada tahun 1992. Setelah Karmen A. Perwataatamadja mendapat mendapat dari IDB untuk mendirikan Bank Islam di Indonesia. Natsir jua lah yang memfasilitasi MUI dan tokoh terkait untuk merumuskannya.

Pada sesi kedua diterangkan tentang 3 pilar ekonomi Islam. Menurut Adi ekonomi Islam harus lah bebas dari riba, ada sektor sebagai penggerak dan bersesuaian praktek dengan syariah. Selain itu ditambahkannya instrumen lain yang tidak boleh dipisahlan dari ekonomi Islam adalah zakat.

“Selama 4 tahun saya kuliah di Mesir, biaya kuliah ditanggung dari dana zakat, infaq, wakaf dan sedekah,” ujar pria yang pernah kuliah di Al-Azhar University ini.

Berlanjut dengan sesi implementasi ekonomi Islam di Indonesia yang dibawakan Ridho. Dalam pandangannya Indonesia masa penjajahan sampai pada perjuangan kemerdekaan dimulai dari gerakan ekonomi, perdagangan. Ia mencontohkan kehadiran Belanda di Nusantara diawali dengan kapal-kapal dagang VOC. Pun demikian dalam perjuangan kemerdekaan, organisasi yang pertama-tama eksis adalah organisasi dagang, Sarekat Dagang Islam, bukan partai politik.

Ketika Indonesia sedang mengalami pergulatan politik yang semakin gencar. Dan umat Islam banyak bermain dalam politk taktis karena keadaan pada saat itu. Namun melupakan banyak organisasi Islam yang melupakan organisasi dagangnya.

“Saat usaha perpolitikan semakingencar, kita lupa dengan organisasi dagang kita,” sebut mahasiswa pasca sarjana Ibnu Khaldun itu.

Untuk dapat menghidupkan kembali ekonomi Islam, menurutnya ada 3 instrumen yang harus dihidup. Mata uang dinar dirham, pasar dan syirkah.

Dia juga menyoroti banyaknya yang mengidentifikasikan ekonomi Islam hanyalah perbankan Islam. Padahal implementasi ekonomi Islam sangatlah luas.

“Banyak yang terjebak di perbankan, padahal ngga ada sejarah ekonomi islam itu dari bank. Hidupnya ekonomi Islam dari perdagnag, zakat, wakaf, syirkah dan lain-lain,” paparnya.

Oleh karena itu menurutnya organisasi-organisasi Islam, khususnya yang sudah berdiri lama sebelum Repbulik Indonesia agar dapat menggiatkan kembali sistem perekonomiannya secara berjamaah. Sedangkan untuk memfasilitasi anggota KONEKSI akan ada program Rumah Ta’awun Koneksi.

Terkahir penyampaian materi pengenalan KONEKSI oleh Ahmad Musyadad yang menjabat sebagai ketua. Disampaikannya KONEKSI berdiri di Bogor tanggal 2 Zulhijjah bertepatan dengan 7 Oktober 2013. Adapun tujuan didirikanya KONEKSI adalah menjadi wadah yang merekatkan pejuang-pejuang ekonomi Islam di indonesia dan menangui masyarkat yangg tertarik dengan ekonomi Islam tidak terbatas para pakar dan akademisi.

“Ekonomi islam harus dapat diakses pada masyaralat tingkat grass root,” tegasnya.

Untuk itulah ada program yang dinamakan HEI, Halaqah Ekonomi Islam. Semua orang bisa bergabung dalam halaqah ini untuk menambah wawasan ekonomi Islamnya. Lebih jauh KONEKSI akan menyelenggrakan training dan sekolah ekonomi Islam bagi masyarakat yang masih awam sehingga mumpuni pemahamannya.

Acara ditutup dengan pembagian formulir kepada peserta yang tertarik untuk bergabung dengan KONEKSI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s