Istafti Qalbak; Mintalah Fatwa pada Hatimu

az zikra

az zikra

“Istafti Qalbak”, mintalah fatwa pada hatimu. Itu yang dikatakan kang Syadad menutup penjelasannya tentang perbedaan pendapat berkaitan dengan denda. Tentu setelah kita menimbang hujjah dari pendapat-pendapat tersebut, tambahnya lagi. Tanyakanlah pada hatimu, mana yang lebih menenangkan, karena yang menggelisahkan itu biasanya bersumber dari dosa. Begitu kira-kira pernyataanya pada saat Halaqah Ekonomi Islam (HEI), ahad (13/04/14) di kampus pascasarjana Universitas Ibnu Khaldun, Bogor.

(Oiya. HEI ini adalah salah satu kegiatan dari KONEKSI (apa itu koneksi bisa dibaca pada postingan terdahulu) yang berbentuk sepeti namanya, halaqah, untuk mereka yang ingin belajar tentang ekonomi Islam.)

Memang kita kadang merasa kebingungan pabila dihadapkan pada pilihan-pilihan. apalagi pilihan itu akan sangat menentukan kehidupan kita di masa yang akan datang. Apalagi kalau pilihan itu tidak hanya berdampak pada kehidupan di dunia, tapi juga pada kehidupan di akhirat.

Pernahkan, ketika dalam sebuah perjalanan kita dihadapkan pada jalan yang bercabang? Kalau belum pernah setidaknya aku pernah, teman juga pernah. Kita tidak tahu jalan mana yang mengantarkan kita ‘tuk sampai pada tujuan. Tidak juga kita dapati penunjuk arah. Maka kita pun mencoba membaca tanda-tanda yang ada. Melihat ke sekitar, menengok ke kiri dan ke kanan. Kalau kita bersama teman, mungkin kita bisa membincangkannya, saling bertanya dan kemudian ikut pada keputusan amir perjalanan. Akan tetapi bagaimana kalau sendiri?

Kita juga atau aku ajalah sering membaca tulisan gede di samping jalan menuju kea rah Banjarmasin. “Ragu-Ragu Lebih Baik Kembali,” begitu bunyinya. Entah apa penafsirannya. Tapi kalau memang kia pergi ke Banjarmasin untuk suatu urusan yang penting, tentu ragu-ragu tidak cukup untuk membatalkan perjalanan kita. Kalau kita ragu apakah rumah sudah dikunci atau belum, itu juga tidak harus balik arah kembali ke rumah. Kan ada handphone, kita bisa hubungi tetanggga atau saudara terdekat untuk ngecek, sudah terkunci atau beum rumah kita. Terus bagaimana kalau pulsanya habis? lah kan sudah ada WA, BBM, Line, dll. Lalu bagaimana kalau pulsa habis dan paket ngga aktif? Isi pulsa dulu aja deh kalau gitu. Tapi kalau kita ragu bawa dompet atau tidak, bawa duit atau tidak, jangan juga langsung pulang, cek dulu aja dikantong atau di tempat kita biasa meletakkanya. Singkatnya, silakan balik kalau memang mau balik gitu aja deh.

Akan tetapi dalam menjalani kehidupan, seragu apapun kita, sebingung apa pun kita, setidak yakin apapun kita, kita tak akan pernah bisa kembali. Waktu tak akan pernah kembali, tidak akan bisa berulang, tak peduli seberapa banyak orang yang merayakan apa yang mereka sebut ‘ulang’ tahun. karena sejati 11 Muharam tahun ini berbeda dengan 11 Muharram tahun lalu. Mungkin jarum jam bisa berhenti, namun bumi tak pernah berhenti berotasi dan berevolusi. Angin akan tetap berhembus sekalipun kita menahan nafas. Ombak pun akan senantiasa memecah gelombang, walaupun perahu tak juga berlayar karena mahal harga solar. Jadi tak bisa kita menjalani kehidupan dengan sepenuh keraguan. Tak ada ruang untuk kembali ke masa lalu. Hanya ada satu kata kembali, ya, kembali kepada-Nya.

Lalu kenapa kita bingung? Setiap orang tentu mempunyai jawabannya masing-masing. Bisa jadi karena kurang informasi atau malah terlalu banyak informasi. Bisa juga karena telah buntu jalan yang ditempuh atau malah telalu banyak alternatif yang tersuguh. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan tuntunan yang sangat indah ketika kebimbangan melanda kita. Istikharah, memohon agar Allah menunjuki kita pada pilihan terbaik dalam suatu urusan. Adapun doanya sebagai berikut :

“Ya Allah, sesungguhnya aku minta pilihan yang tepat kepada-Mu dengan ilmu pengentahuan-Mu, dan aku mohon kekuasaan-Mu (untukmengatasi persoalanku) dengan ke-Maha Kuasaan-Mu. Aku mohon kepada-Mu yang Maha Agung, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa, sedak aku tak kuasa, Engkau mengetahui. Sedang akubtidak mengetahuinya dan Engkau adalah Maha Mengetahui hal yang ghaib. Ya Allah apabila Engkau mengetahui bahwa urusan ini (disebutkan masalahnya) lebih baik dalam agamaku, dan akibatnya terhadap diriku –atau Nabi bersabda ”di dunia dan di akhirat”- takdirkanlah untukku, mudahkan-lah jalannya, kemudian berilah berkah. Akan tetapi apabila Engkau mengetahui bahwa persoalan in lebih berbahya bagiku dalam agama, perekonomian dan akibatnya kepada diriki, maka singkirkanlah persoalan tersebut dan jauhkan aku daripadanya, takdirkan kebaikan untukku di mana saja kebaikan itu berada, kemudian berilah kerelaan-Mu kepadaku.”

Di lain kesempatan Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam juga memberikan bimbingan pada umatnya agar meminta fatwa pada hati. Tentu bukan sembarang hati yang bisa ditanya. Janganlah bertanya pada hati yang sakit, sebelum hati itu sembuh. Sebab ia hanya akan menambah penderitaan si empunya. Jangan pula bertanya pada hati yang telah mati, sunyi dan sepi tanpa solusi. Lalu pada hatinya yang manakah pertanyaan itu kita ajukan?

Ibnul Qayyim al-Jauziyah pernah berkata : “Carilah hatimu pada tiga tempat. Ketika mendengarkan al-Qur’an, ketika berada di majelis-majelis zikir, dan pada saat-saat sendiri di sepertiga malam. Apabila kamu tidak mendapatinya pada tempat-tempat itu, maka mohonlah kepada Allah untuk memberikan hati yang baru, kaena sesungguhnya kamu sudah tidak memiliki hati.” (al-Fawaid, hal. 143)

Pernyataan di atas mungkin pantas kita renungkan untuk menjawab pertantaan sebelumnya, pada hati yang mana kita bertanya? Yups, ajukanlah pertanyaan itu pada hati yang akrab dengan al-Qur’an, pada hati yang senang duduk majelis-majelis zikir dan pada hati yang syahdu menghamba pada Rabb-nya disaat manusia terlelap. “Istafti qalbak”

LQID Cisarua Bogor
LQID

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s